Refleksi Kota Maba yang Nyaris Sunyi

“Kota Imajener”

Rusmin Hasan

Disudut-sudut kota, kita tidak jumpai lahir dialektika ide-ide yang tertata dari pikiran para aktivis, akademisi dan pengiat komunitas dan lainnya, yang ada hanya insfrastruktur yang menjulang tinggi namun, dibalik kemewahan bangunan kota kita tidak jumpai pikiran yang tertata.

Padahal sejatinya, kota tidak hanya soal pembangunan fisik, proyek yang dijalankan melainkan memahami ruang, manusia dan masa depan. Kota yang baik dimulai dari pikiran yang tertata.

"Menata Kota, Menata Pikiran"

Diusia 23 Tahun 2026, Kab. Halmahera Timur bagi saya, kita sudah harus menata kota dan dimenata pikiran. Dan semua itu, bermula dari menata ruang perkotaan yang nyaman, bersih dan berpihak pada warga.

Kota masa depan bukanlah sekedar "kota smart city" yang diimpikan, tetapi kota yang mengintegrasikan infrastruktur sosial yang nyaman, humanis dengan pikiran yang tertata dan berkelanjutan.

Maka, penting kita untuk memikirkan bersama masa depan "Kota Maba", sebagai pusat pemerintahan kab. Halmahera Timur.

Dan semua itu, harus bermula dari kita semua sebagai elemen penting lapisan masyarakat tidak hanya pemerintah Daerah, akan tetapi aktivis, akademisi, praktisi sosial dan masyarakat pada umumnya.

Menata Kota, menata pikiran bermula dari menata manusianya. Kota maba Kab. Halmahera Timur bagi saya tidak ada yang istimewa.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...