Inflasi Halmahera Tengah 1,15 Persen

Ternate, malutpost.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Kabupaten Halmahera Tengah mengalami inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 1,15 persen pada April 2026.
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, transportasi hingga kebutuhan rumah tangga menjadi faktor utama yang mendorong naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah tersebut.
Berdasarkan data BPS, IHK Halmahera Tengah meningkat dari 109,83 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026. Selain inflasi tahunan, tingkat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) tercatat sebesar 0,24 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) mencapai 1,80 persen.
Kepala BPS Kabupaten Halmahera Tengah, Muhamad Budiman, mengatakan inflasi April 2026 masih didominasi oleh pergerakan harga komoditas pangan yang mengalami fluktuasi di pasar.
Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh distribusi barang, perubahan pasokan, hingga tingginya permintaan masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di Halmahera Tengah. Komoditas perikanan dan bahan pangan pokok memberi andil cukup besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen pada April 2026,” kata Muhamad Budiman.
Ia menjelaskan, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,11 persen secara tahunan. Selain itu, kelompok transportasi juga naik sebesar 1,62 persen akibat meningkatnya biaya angkutan dan harga bahan bakar tertentu.
Muhamad Budiman menuturkan, beberapa komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi tahunan di antaranya ikan cakalang, beras, ikan sorihi, solar, emas perhiasan, ketela pohon, kue basah, ikan asap, ikan selar, sagu lempeng dan ikan kakap merah.
“Komoditas hasil laut masih sangat memengaruhi pembentukan inflasi di Halmahera Tengah karena konsumsi masyarakat cukup tinggi terhadap produk perikanan. Ketika pasokan berkurang atau distribusi terganggu, harga akan cepat bergerak naik,” ujarnya.
Selain komoditas pangan, lanjut Muhamad Budiman, kenaikan harga tarif pulsa ponsel, sigaret kretek mesin (SKM), lemon dan upah asisten rumah tangga juga ikut memberikan andil terhadap inflasi tahunan daerah.
Meski terjadi inflasi, BPS juga mencatat sejumlah komoditas mengalami penurunan harga atau deflasi. Komoditas seperti tomat, cabai merah, bawang putih, gula pasir, minyak goreng, cabai rawit, kangkung hingga bawang merah menjadi penahan laju inflasi pada April 2026.
Muhamad Budiman mengatakan, kelompok pendidikan menjadi penyumbang deflasi terbesar secara tahunan dengan penurunan indeks mencapai 54,38 persen. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi oleh perubahan biaya pendidikan pada beberapa jenjang sekolah.
“Selain pendidikan, kelompok pakaian dan alas kaki serta perlengkapan rumah tangga juga mengalami penurunan indeks. Ini membantu menahan tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi,” katanya.
Untuk inflasi bulanan April 2026, Muhamad Budiman menjelaskan kenaikan harga solar menjadi faktor paling dominan. Selain itu, tarif angkutan sungai dan penyeberangan, tarif angkutan laut, cabai merah, bawang merah, kacang panjang dan telur ayam ras turut memberikan andil terhadap inflasi bulanan.
Ia menilai sektor transportasi masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga barang di Halmahera Tengah, terutama karena distribusi kebutuhan pokok masih sangat bergantung pada jalur laut dan penyeberangan antarwilayah.
“Kenaikan biaya transportasi biasanya akan diikuti kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat. Karena itu, stabilitas distribusi dan kelancaran transportasi sangat berpengaruh terhadap pengendalian inflasi daerah,” ujar Muhamad Budiman.
Di sisi lain, beberapa komoditas seperti ikan selar, ikan cakalang, ikan asap, ikan tuna, kangkung, tempe dan emas perhiasan mengalami penurunan harga pada April 2026 sehingga membantu menahan laju inflasi bulanan.
Muhamad Budiman menambahkan, secara umum kondisi inflasi di Halmahera Tengah masih berada dalam kategori terkendali.
Namun, ia mengingatkan bahwa pemerintah daerah tetap perlu mewaspadai fluktuasi harga pangan dan biaya distribusi menjelang pertengahan tahun serta momentum hari besar keagamaan.
“Pengendalian inflasi membutuhkan sinergi semua pihak, baik pemerintah daerah, pelaku usaha maupun distributor, agar pasokan barang tetap terjaga dan harga di pasar tetap stabil,” tandasnya. (wm-01/onk)


Komentar