Iran: Dari Rekonfigurasi Ekonomi Global hingga Transformasi Tata Dunia

Dr. Abd. Rahman, S.S., M.Si

Dalam laporan IMF disebutkan bahwa “macroeconomic instability continues to constrain Iran’s long-term growth potential” (IMF, 2022:23). Di sini terlihat bahwa kekuatan geopolitik Iran tidak sepenuhnya ditopang oleh kekuatan ekonomi yang stabil.

2. Politik Identitas dan Legitimasi Ideologis

Dalam dimensi politik, kekuatan Iran tidak hanya terletak pada diplomasi atau strategi luar negeri, tetapi juga pada konstruksi identitas ideologis.

Negara ini membangun legitimasi melalui narasi perlawanan terhadap dominasi Barat. Dalam perspektif teori politik, ini dapat dibaca melalui konsep “hegemoni kultural” dari Antonio Gramsci, yang menyatakan bahwa “hegemony is achieved not only through coercion but through consent” (Gramsci, 1971: 12).

Iran memproduksi narasi bahwa ia adalah representasi dari perlawanan global terhadap imperialisme. Narasi ini tidak hanya efektif di dalam negeri, tetapi juga di kawasan Timur Tengah. Hal ini terlihat dari dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi yang memiliki kesamaan ideologis.

Dalam studi hubungan internasional, strategi ini dikenal sebagai “soft power with ideological content”. Joseph Nye menyatakan bahwa “soft power rests on the ability to shape the preferences of others” (Nye, 2004:5).

Iran menggunakan ideologi sebagai alat untuk mempengaruhi aktor-aktor non-negara. Namun, legitimasi ideologis ini juga menghadapi tantangan internal.

Protes sosial dan ketidakpuasan masyarakat menunjukkan bahwa narasi negara tidak selalu diterima secara universal. Dalam konteks ini, Iran menghadapi dilema klasik antara stabilitas politik dan legitimasi demokratis.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...