Di Tengah Perdebatan Nikel, Nelayan Obi Tetap Melaut

Halsel, malutpost.com -- Hari Nelayan Nasional menjadi momentum untuk melihat kembali hubungan antara laut, nelayan, dan arah pembangunan.
Di Pulau Obi, Halmahera Selatan, refleksi ini tidak sederhana karena laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang tarik-menarik antara keberlanjutan alam dan hilirisasi.
Dalam beberapa waktu terakhir, perairan di sekitar Obi menjadi bagian dari diskursus yang lebih luas tentang industri nikel dan dampaknya terhadap lingkungan. Kekhawatiran terhadap degradasi ekosistem muncul. Namun di saat yang sama, kondisi di lapangan menunjukkan dinamika yang terus berkembang dan memerlukan pengelolaan yang berkelanjutan.
“Kalau laut terganggu, kami pasti yang pertama merasakan. Tapi sampai sekarang, kami masih melaut seperti biasa,” ujar Ibrahim, seorang nelayan di Soligi yang tergabung di kelompok Sentra Usaha Tani Nelayan (SUTAN).
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Lamulyadi Usman, yang merasakan peningkatan dalam penanganan hasil tangkapan. Ia menilai kualitas ikan yang diperoleh tetap baik dan layak jual.
“Alhamdulillah ikannya bagus-bagus, karena yang kita dapat ikan segar. Hasil yang kita dapat harus dirawat baik-baik. Kalau tidak dirawat, ikan cepat rusak. Tapi sekarang sudah terbiasa bawa es banyak,” tuturnya.
Temuan ini diperkuat oleh kajian akademik Prof. Janib Achmad dari Universitas Khairun, Ternate. Ia menyebut bahwa perairan Obi masih menunjukkan produktivitas yang mendukung kehidupan biota laut. Aktivitas nelayan yang tetap berjalan menjadi indikator yang tidak mudah diabaikan.
“Indikator fisik perairan laut berada dalam standar baku mutu yang ditetapkan, mendukung keberlanjutan ekologi di wilayah tersebut,” ujar Janib.
Observasi yang melibatkan Telapak bersama Universitas Khairun ini juga menunjukkan parameter kualitas air laut, seperti pH, kekeruhan, TSS, dan BOD, berada dalam nilai baku mutu. Ekosistem pesisir terpantau dalam kondisi normal.
Standar baku mutu air laut diatur dalam PP Nomor 22 Tahun 2021. Dalam konteks ini, temuan lapangan menunjukkan kondisi perairan masih dalam batas yang dipersyaratkan, dengan pengelolaan lingkungan yang perlu terus diperkuat.

Pandangan serupa juga muncul dalam hasil penelitian tahun 2022 yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Etty Riani, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University. Ikan dibedah dengan protokol ketat saat tertangkap hidup dan diawetkan sehingga organ yang didapat dalam kondisi prima untuk diuji kandungan logam berat seperti, nikel (Ni) dan besi (Fe).
Selain itu, dilakukan analisis histomorfologi untuk melihat dampak kontaminasi terhadap organ-organ penting ikan, seperti hati, otot, ginjal, jantung, insang, usus, lambung, pankreas, serta limpa. Hal yang terungkap, berdasarkan histomorfologi memperlihatkan bahwa kerusakan organ yang lebih serius dan diduga diakibatkan oleh bahan toksik dari lingkungan justru terlihat di perairan Ternate dan Pulau Bacan, dibanding Obi.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kondisi perairan Pulau Obi, baik itu di area pertambangan maupun di luar area pertambangan, memiliki kondisi perairan yang relatif baik. Selain Pulau Obi, kami juga turut menguji di perairan Pulau Bacan dan Kota Ternate,” jelas Prof. Etty, memaparkan hasil penelitian kerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) saat itu.
Studi lanjutan tahun 2025 yang dilakukan IPB University dengan cakupan logam berat yang diuji lebih beragam menunjukan kondisi perairan berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi mendukung kehidupan dan keberlangsungan hidup biota di dalamnya.
Kembali ke Soligi, kelompok SUTAN kini telah menjadi pemasok rutin untuk kebutuhan konsumsi ribuan karyawan Harita Nickel. Dalam sebulan, para nelayan mampu menyuplai 1 hingga 2 ton ikan segar berkualitas tinggi ke dapur katering perusahaan.
“Sebelum program ini berjalan, kami melaut dengan cara-cara tradisional dan hasil tangkap hanya dipasarkan secara terbatas. Kini, fasilitas cold storage sedang disiapkan bersama Harita Nickel, yang memungkinkan hasil laut kami tetap segar, dan bernilai jualnya tinggi saat masuk ke pasar,” jelas Ibrahim.
Rangkaian temuan ini menunjukkan bahwa kondisi laut di Obi tidak dapat disederhanakan menjadi satu kesimpulan tunggal. Di satu sisi, terdapat kekhawatiran yang perlu dihargai. Di sisi lain, terdapat data lapangan dan observasi yang menunjukkan bahwa sistem ekologis masih berjalan.
Aliette K. Frank, yang meneliti Storytelling for Sustainability di University of British Columbia, mengingatkan bahwa keberlanjutan juga dibentuk oleh nilai, konteks sosial, dan cara manusia memaknai lingkungan. Dalam konteks ini, perdebatan tentang laut di Obi tidak bisa diselesaikan hanya dengan data maupun persepsi, karena keduanya berjalan berdampingan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir.
Hal ini tercermin dari aktivitas di tingkat komunitas, di mana kelompok SUTAN tidak hanya berdampak pada nelayan yang melaut, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi para perempuan. Area pusat aktivitas SUTAN menjadi ruang produktif bagi para ibu di Desa Soligi yang terlibat dalam penimbangan, hingga pengemasan hasil tangkapan.
“Kami melaut, sementara para ibu membantu dalam penimbangan hingga pengemasan ke dalam kotak pendingin. Di SUTAN, semua elemen bekerja sama demi meningkatkan taraf hidup,” tambah Ibrahim.
Di balik perkembangan ekonomi, para nelayan sempat menghadapi tantangan berat. Mulai dari keterbatasan alat hingga gangguan kapal luar di area penangkapan. Melalui pendampingan Harita Nickel, para nelayan kini lebih teredukasi dalam aspek hukum dan advokasi.
“Kami diarahkan untuk melapor ke pemerintah terkait masuknya kapal luar, bahkan kami didampingi untuk mengajukan permohonan sebagai Satgas Penjaga Laut Obi,” pungkas Ibrahim.
Kegiatan tersebut belum tentu menjawab seluruh perdebatan, tetapi menunjukkan bahwa laut terus membawa manfaat di kehidupan masyarakat. Ke depan, tantangannya adalah memastikan pengelolaan lingkungan terus diperkuat agar keberlanjutan tetap terjaga.
Seperti dijelaskan oleh Frank, keberlanjutan pada dasarnya adalah contested meaning. Tidak ada satu definisi yang sepenuhnya disepakati. Saat ini, yang bisa dilakukan adalah upaya untuk menyeimbangkan antara data, pengalaman, dan pilihan yang diambil hari ini, untuk masa depan. Di Pulau Obi, upaya itu terus berlangsung.




Komentar