Omong Kosong Visi Agromaritim Bassam-Helmi

M. Tamhir Tamrin

Ongkos angkut meningkat. Harga di tingkat konsumen ikut terpengaruh. Dalam kondisi darurat, ambulans atau kendaraan rujukan harus memperlambat laju karena lubang dan genangan dan jalan tanah yang hancur akibat hujan.

Sejumlah warga masih menyampaikan keluhan tentang titik titik jalan yang rusak, berlubang, serta drainase yang kurang memadai. Saat musim hujan, genangan mempercepat kerusakan aspal. Perjalanan menjadi lebih berisiko, terutama pada malam hari.

Kasus rujukan ibu hamil dari Desa Wayatim pada 26 Februari 2026 memperlihatkan betapa rapuhnya sistem konektivitas jika satu elemen infrastruktur belum selesai.

Seorang ibu hamil dirujuk dari Polindes menuju Puskesmas Bibinoi dan direncanakan ke RSUD Labuha. Cuaca laut saat itu tidak memungkinkan penyeberangan.

Jalur darat menjadi satu satunya pilihan. Namun rombongan tertahan banjir di sungai karena belum adanya jembatan permanen.

Waktu terbuang berjam jam. Petugas kesehatan harus berjalan kaki menembus arus untuk mencari bantuan. Ketika akhirnya pasien tiba di fasilitas kesehatan, bayi lahir dalam kondisi asfiksia dan sang ibu mengalami pendarahan.

Situasi ini tidak terjadi di wilayah terpencil tanpa akses sama sekali. Ini terjadi dalam satu kabupaten yang memiliki visi besar pembangunan berbasis agromaritim.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...