Omong Kosong Visi Agromaritim Bassam-Helmi

Kapal penumpang itu mengangkut sekitar 66 orang. Proses evakuasi berlangsung dramatis dan menyita perhatian luas. Sedikitnya 10 orang ditemukan meninggal dunia.
Bagi keluarga korban, tragedi itu adalah kehilangan yang tidak tergantikan. Bagi pemerintah daerah, seharusnya itu menjadi momentum evaluasi total terhadap sistem pelayaran rakyat. Tetapi setelah peristiwa itu, insiden lain tetap muncul.
Agustus 2023, LCT Modern Putra Samudera tenggelam di perairan Halmahera Selatan. Satu anak buah kapal dilaporkan meninggal dunia dan dua lainnya hilang. Maret 2025, longboat KM Siti Mambulu tenggelam di sekitar perairan Obi.
Tiga orang dilaporkan hilang. Januari 2026, longboat rute Babang menuju Pigaraja yang mengangkut 59 penumpang tenggelam akibat gelombang tinggi. Satu balita meninggal dunia dan satu penumpang lainnya hilang.
Jika dihitung secara sederhana, dalam rentang 2022 sampai awal 2026 terdapat setidaknya empat insiden kapal tenggelam di wilayah Halmahera Selatan dengan korban meninggal dan hilang.
Ini bukan wilayah dengan lalu lintas pelayaran sebesar kota pelabuhan besar. Namun angka insiden seperti itu sudah cukup untuk menyalakan alarm serius.
Setiap insiden selalu diikuti dengan pernyataan evaluasi. Selalu ada janji pembenahan. Tetapi masyarakat di desa desa pesisir tetap berangkat dengan rasa khawatir ketika gelombang mulai meninggi. Longboat tetap menjadi pilihan utama karena tidak ada alternatif lain yang benar benar aman dan cepat.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar