Rapuhnya Literasi dan Suburnya Investasi Bodong

Dr. Iswadi M. Ahmad

Tidak jaran, korban merasa ditipu oleh orang yang lebih dulu mengajak bergabung, meskipun mereka sendiri sebenarnya juga korban. Hal ini tentu melemahkan kohesi sosial dan solidaritas masyarakat, karena rasa saling percaya yang menjadi dasar interaksi sosial masyarakat pun ikut runtuh.

Di sisi lain, dampak psikologi yang ditimbulkan seringkali lebih dalam dibanding kerugian materi. Korban tidak hanya mengalami kehilangan uang, tetapi juga mengalami gangguan mental seperti cemas, stres, rasa malu karena ditipu, hingga penurunan harga diri.

Perasaan bersalah karena telah tertipu kerap menghantui, terlebih jika kerugian tersebut melibatkan uang keluarga seperti tabungan istri atau suami, tabungan biaya pendidikan anak, dan tabungan orang tua.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini memicu konflik dalam rumah tangga, memperburuk kesehatan mental, bahkan menimbulkan trauma yang menyebabkan korban tidak berani mengambil keputusan keuangan di masa depan.

Jika tidak ditangani dengan baik maka dampak psikologi tersebut dapat mengganggu perilaku keuangan, produktivitas, serta kesejahteraan individu secara keseluruhan.

Rapuhnya Literasi Keuangan

Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari rapuhnya literasi keuangan masyarakat yang menjadi akar persoalan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Maluku Utara pada tahun 2025 berada pada angka 49,38 persen, sedangkan tingkat inklusi keuangan mencapai 81,64 persen.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat banyak yang suda bisa menggunakan layanan keuangan, namun pengetahuan mereka tentang produk keuangan masih sangat minim.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...