Rapuhnya Literasi dan Suburnya Investasi Bodong

Gerakan Pendidikan Keuangan
Kondisi ini menunjukkan bahwa minimnya literasi keuangan bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah struktural yang memerlukan intervensi melalui pendidikan.
Dalam konteks itulah pendidikan keuangan menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Sayangnya perhatian terhadap pendidikan keuangan masih bersifat reaktif, baru ramai dibicarakan setelah investasi bodong menelan banyak korban. Padahal, pendidikan keuangan seharusnya diberikan sejak dini sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Keluarga adalah sekolah pertama dalam pendidikan keuangan. Di sanalah anak seharusnya mulai dikenalkan pada makna uang, bukan sekadar sebagai alat belanja, tetapi sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan secara bijak.
Anak perlu dibimbing membedakan antara kebutuhan dan keinginan, dilatih mengatur pengeluaran, serta dibiasakan menabung sejak dini.
Tanpa fondasi ini, anak akan tumbuh tanpa kendali dalam mengambil keputusan finansial. Sebaliknya, dengan pembiasaan yang tepat, mereka akan menjadi individu yang lebih rasional, mandiri, dan tidak mudah terjebak dalam godaan penipuan maupun keputusan keuangan yang merugikan.
Di sisi lain, pemerintah daerah melalui dinas pendidikan harus berani mengambil peran strategis dengan mengintegrasikan literasi keuangan ke dalam kurikulum pada setiap jenjang pendidikan.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar