Rapuhnya Literasi dan Suburnya Investasi Bodong

Modus Lama, Wajah Baru
Jika Karapoto menawarkan investasi dengan keuntungan yang sangat besar dengan menggunakan skema narasi usaha berbasis komunitas maka kasus terbaru menggunakan wajah yang lebih modern yaitu menggunakan aplikasi, paket deposit digital, dan menjanjikan keuntungan yang terdengar meyakinkan.
Sekilas terlihat berbeda, namun apabila dicermati lebih dalam pola dasarnya sama: menjebak masyarakat dengan janji keuntungan cepat.
Investasi bodong pada umumnya memiliki cara kerja yang hampir sama. Pelaku penipuan menggunakan skema berantai mengandalkan dana anggota baru untuk membayar anggota yang lama.
Untuk meyakinkan masyarakat, mereka menggunakan skema seperti testimoni palsu, tekanan waktu agar segera bergabung, dan menjanjikan komisi yang besar bagi anggota yang mengajak orang lain bergabung dalam suatu layanan.
Dalam beberapa kasus, rekrutmen anggota kebanyakan menggunakan pendekatan emosional dibanding rasional, memanfaatkan rasa takut tertinggal, dan harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi secara cepat. Di sinilah masyarakat tingkat literasi keuangannya renda menjadi sangat mudah terpengaruh.
Dampak yang Tak Sekadar Finansia
Investasi bodong tidak hanya menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga merusak tatanan sosial masyarakat. Ketika korban berasal dari lingkungan yang saling mengenal seperti teman, tetangga, dan keluarga, maka dampaknya akan menimbulkan krisis kepercayaan.
Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang sebelumnya harmonis menjadi saling curiga, saling menyalakan, bahkan berujung pada konflik terbuka.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar