Literasi dan Arah Kemajuan Daerah

Sementara itu, laporan dari Perpustakaan Nasional tentang Indeks Literasi Masyarakat (ILM) menunjukkan adanya peningkatan nilai Tingkat Gemar Membaca (TGM) pada 2024 yaitu 72,44, melampaui target dan capaian sebelumnya. Namun ini belum seberapa bila dibandingkan dengan capaian literasi di negara-negara lain.
Di Maluku Utara, kebiasaan literatif juga sering menjadi hal yang cukup menjadi prihatin. Kemampuan membaca masih menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Minat terhadap membaca adalah faktor yang harus dilberi perhatian secara serius.
Dalam hal fasilitas, jumlah perpustakaan di tiap daerah masih sangat kurang. Ketersediaan toko buku juga menjadi kendala yang menghambat pertumbuhan literasi.
Bahkan di beberapa kabupaten kota, sama sekali tidak tersedia toko buku. Jika ada perpustakaan daerah di tiap kabupaten kota, itu pun jumlahnya sangat terbatas dan tidak lebih dari tiga perpustakaan.
Di waktu saya menginjakkan kaki di universitas pertama kali, tepatnya di kota Ternate, pada 2017 sampai sekitar 2019, pasar online belum menggurita seperti sekarang sehingga kami hanya bergantung dengan perpustakaan atau toko buku yang jumlahnya tidak lebih dari 3.
Beberapa tahun belakangan kemajuan teknologi membuka ruang dan akses sebebas-bebasnya. Minimnya ketersediaan toko buku di suatu daerah tidak lagi menjadi halangan. Siapa saja bisa mengakses buku sebebas-bebasnya. Namun, mirisnya mengapa tingkat membaca di Maluku Utara masih rendah?
Pada 2024, Perpustakaan Nasional melaporkan peringkat provinsi paling gemar membaca dan Maluku Utara menduduki peringkat 60,52.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar