Ketika Tanah Menjadi Doa: Dari Petani, Harapan adalah Anugerah

Namun, di tengah semua ketimpangan itu, petani tetap menanam. Mereka tahu bahwa hidup harus terus berjalan. Menanam bagi mereka bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga bentuk melawan, bentuk ibadah, bentuk pengharapan, dan bentuk kesetiaan terhadap kehidupan.
Banyak daerah terutama di kawasan timur Indonesia, Maluku Utara seperti Halmahera Timur dan sekitarnya, petani kini harus berhadapan dengan dampak langsung industri ekstraktif.
Ketika perusahaan tambang datang membawa janji kesejahteraan, banyak yang berharap kehidupan akan membaik. Namun yang datang sering kali justru bencana sosial-ekologis.
Sungai yang dulu menjadi sumber irigasi tercemar, sawah kehilangan kesuburan, hasil produktifitas buah kelapa menurun dan masyarakat kehilangan akses terhadap sumber daya alam.
Pembangunan yang seharusnya membawa kesejahteraan justru menghadirkan ketimpangan. Alam yang dulu memberi kini menagih, dan manusia menjadi asing di tanahnya sendiri.
Dari sini tampak betapa pembangunan sering kali hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi (Materialisme), bukan dari kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya.
Ketika industri lebih dihargai dari sawah dan kebun, ketika tambang lebih dianggap penting daripada irigasi, maka sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan arah.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar