Wajah Perempuan di Media Massa

Julaiha Hi Amin

Atau terkait dengan sebuah peristiwa yang terjadi misalnya, sebagai korban kekerasan, pelaku kekerasan, PSK, dan sebagainya.

Begitu pula tokoh-tokoh perempuan, karena belum diikuti oleh pemahaman secara mendasar para pegiat media atau wartawan umumnya, para pegiat media masih melakukan stereotip bagi perempuan yang berujung pada upaya melakukan diskriminasi terhadap perempuan.

Baca Juga: Kartini di Tengah Deru Mesin: Suara Perempuan dari Tanah yang Terluka

Samovar dan Porter (Dalam Mulyana, 2000:218) mendefinisikan stereotip sebagai persepsi atau kepercayaan yang kita anut mengenai kelompok-kelompok atau individu-individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk.

Singkat kata “Wajah” wanita di media massa masih memperlihatkan stereotip yang merugikan : perempuan pasif dan bergantung pada pria, didominasi, menerima keputusan yang dibuat oleh pria, dan terutama melihat dirinya sebagai simbol seks. (Sobur, 2001:38).

Dalam karya sastra Indonesia, sosok wanita kerap muncul sebagai simbol kehalusan, sesuatu yang bergerak lamban, bahkan kadang berhenti.

Wanita, sebagaimana digambarkan Herliany (dalam Ibrahim dan Suranto, ed., 1998:56), begitu dekat dengan idiom-idiom seperti keterkungkungan, ketertindasan, dan bahkan pada ‘konsep’ yang terlanjur diterima dalam kultur masyarakat kita, bahwa mereka adalah ‘objek’ dan bukan ‘subjek’.

Juga bisa kita lihat bagaimana wanita diproyesikan dalam media : iklan halaman muka berbagai tabloid dan majalah hiburan, masih banyak yang memakai wajah dan bentuk badan wanita sebagai daya tariknya.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...