Mata yang Tertutup di Lelilef

Di Lelilef jika hujan, rasa khawatir tentang banjir memuncak. Bayangan akan bencana seolah segera tiba. Tapi jika kemarau datang, “badai” debu merajai, menutup, dan menusuk, pada mata yang sedang menatap, debu siap menantang dan menghadang di depan.

Pada mata yang tertutup lebih cepat, kemudian terbuka dengan pandangan buram. Debu ialah korban alam. Serbuk-serbuk itu terbang tak tentu arah, dan terus, menjadi debu dengan caranya. Dengan perannya.

Cara debu datang di Lelilef sangat bisa ditebak. Mungkin alam pelan-pelan, menyerang dan menusuk sedikit demi sedikit. Tapi toh, rakyat di sini faham. Sangat faham.

Apa penyebab debu hingga separah ini? Kenapa debu ini tidak bisa diatasi? Semahal apa mobil watercanon itu?  Ketika dulu, di kampung nan jauh di Halmahera Timur, beroperasi sebuah tambang nikel, PT Harita.

Dan tentunya setiap perusahan pasti menyebabkan dampak lingkungan, salah satunya debu. Harita kemudin  menyediakan 3 watercannon untuk menghilangkan debu pada setiap pagi dan sore di Wasile.

Kini Harita, perusahaan yang sangat kecil itu, telah di Obi, Halsel, dan entah melaksanakan tanggung-jawabnya atau tidak. Tapi setidaknya, hingga catatan ini hadir, Harita telah bertanggung-jawab setiap hari, menghilangkan debu akibat limbahnya di awal tahun 2007 silam.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...