Lewat Program TJSL, PLN UIP MPA Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Pantai Wauwo

Tobelo, malutpost.com — Menanam mangrove dan melepasliarkan tukik menjadi pengalaman berbeda bagi guru dan siswa SD Inpres Mamuya. Bersama mahasiswa dan dosen Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera (UNIERA), mereka terlibat langsung dalam aksi konservasi di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) melalui dukungan terhadap Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Prodi Kehutanan Fakultas Ilmu Alam dan Teknologi Rekayasa (FIATER) UNIERA.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 100 bibit mangrove Rhizophora apiculata ditanam bersama mahasiswa dan siswa. Para peserta juga menyaksikan sekaligus terlibat dalam pelepasliaran 30 tukik penyu yang sebelumnya telah mendapatkan perawatan selama kurang lebih satu minggu.
Bagi para siswa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal konservasi secara langsung. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga memahami hubungan antara vegetasi, satwa dan habitat yang menjadi tempat berlangsungnya kehidupan.

Ketua PKM Program Studi Kehutanan UNIERA, Dr. Ebedly Lewerissa, S.Hut., M.Sc., mengatakan keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan.
“Mahasiswa dan siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi dapat melihat dan merasakan langsung bagaimana sebuah ekosistem harus dijaga. Ini menjadi pembelajaran bahwa konservasi merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Ebedly.
Manager Unit Pelaksana Proyek Maluku dan Papua 2, Mohammad Fendra Herinansah, mengatakan pelibatan masyarakat dan generasi muda sejalan dengan semangat Program TJSL PLN UIP MPA untuk menciptakan manfaat yang berkelanjutan.
“Program TJSL PLN UIP MPA tidak hanya diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat secara langsung, tetapi juga bagaimana membangun kepedulian dan kapasitas masyarakat. Ketika generasi muda dilibatkan sejak dini, mereka dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan di masa depan,” kata Fendra.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu kekuatan dalam menjalankan program TJSL berbasis lingkungan.
“UNIERA memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan dan pendampingan. PLN mendukung agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan langsung di lapangan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan,” ujarnya.

Ketua Program Konservasi Mamoa, Fiktor Imanuel Boleu, S.Si., M.Si., mengatakan Pantai Wauwo memiliki ekosistem yang saling berkaitan.
“Penanaman mangrove, pelepasan tukik dan perlindungan habitat Mamoa tidak bisa dilihat sebagai kegiatan yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir secara utuh,” jelas Fiktor.
Program konservasi di Pantai Wauwo sendiri telah berjalan secara bertahap. Sebelum penanaman, Prodi Kehutanan UNIERA telah melakukan pembibitan 1.000 mangrove jenis Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza. Sebagian bibit yang telah dipelihara sejak 2025 kemudian digunakan untuk kegiatan penanaman.
Ke depan, kolaborasi melalui Program TJSL PLN UIP MPA tersebut diharapkan dapat terus dilanjutkan melalui pemeliharaan dan monitoring mangrove, edukasi lingkungan serta penguatan kelompok konservasi masyarakat.
Dengan keterlibatan perguruan tinggi, masyarakat, sekolah, kelompok konservasi dan PLN, Pantai Wauwo diharapkan tidak hanya menjadi kawasan yang terlindungi, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama dalam menjaga kekayaan alam pesisir Halmahera Utara. (ikh)



Komentar