Rutinitas Birokrasi dan Kemajuan Teknologi

Oleh: Risval Tri Budiyanto
(ASN Pemprov Malut)
Senin datang. Kantor mulai ramai, komputer menyala, dan grup WhatsApp mulai riuh. Ada disposisi, surat masuk, dan agenda rapat.
Selasa kurang lebih sama. Rabu diisi rapat. Kamis menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Jumat mengejar tugas yang belum rampung. Lalu Sabtu dan Minggu berlalu, hingga Senin datang kembali.
Birokrasi memang harus bekerja: aparatur hadir, surat diterbitkan, laporan disusun, dan administrasi diselesaikan. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang acap kali luput kita ajukan: Apakah kesibukan selalu berbanding lurus dengan kemajuan?
Belum tentu. Seseorang bisa berjalan sangat cepat, tetapi ternyata hanya berputar-putar di titik yang sama. Begitu pula organisasi—bisa sangat sibuk, tetapi tidak mengalami kemajuan nyata.
Jangan Sampai Rapat Menjadi Prestasi
Ada organisasi yang tampak sangat aktif. Agenda rapatnya padat, undangannya banyak, daftar hadir penuh, dan notula tersusun rapi. Namun, pertanyaan utamanya: Setelah rapat selesai, apa yang benar-benar berubah?
Rapat bukanlah prestasi; rapat hanyalah alat. Ia menjadi krusial ketika ada persoalan yang butuh keputusan, koordinasi, pembagian tugas, serta solusi nyata.
Namun, jika rapat hari ini hanya melahirkan agenda rapat berikutnya, kita patut berhenti sejenak. Jangan-jangan yang sedang kita produksi bukanlah penyelesaian masalah, melainkan sekadar tumpukan aktivitas.
Rapat harus menghasilkan keputusan. Keputusan harus memicu tindakan. Tindakan harus melahirkan penyelesaian, dan penyelesaian harus memberi manfaat publik.
Jika rantai itu putus, kita perlu bertanya: di mana letak penyumbatnya? Jangan sampai ruang rapat menjadi tempat paling sibuk di pemerintahan, sementara persoalan masyarakat dibiarkan menumpuk di luar.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar