Warisan Budaya hingga Kuliner Ternate Dinilai “High Level”, Wawali Baubau Dorong Generasi Muda Kembangkan

IMG 20260829 WA0009
Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu bersama Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman. (Foto: malutpost.com)

Ternate, malutpost.com — Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu, mendorong generasi muda Kota Ternate untuk tidak hanya menjaga dan melestarikan warisan budaya, tetapi juga mengembangkannya menjadi sumber kekuatan ekonomi.

Menurutnya, warisan budaya, baik benda maupun tak benda, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tanpa menghilangkan nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Hal tersebut disampaikan Wa Ode Hamsinah Bolu saat ditemui dalam rangkaian Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-12 di Kota Ternate.

“Ini menjadi penting sekali. Dua hari kami melakukan Rakernas JKPI. Banyak yang menyuarakan, termasuk saya sendiri, bahwa warisan budaya ini kita jaga, kita pelihara, kita lestarikan, tidak sekadar pada nilai objek warisan budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Wa Ode Hamsinah Bolu, saat di wawancara di Kota Ternate, Sabtu (29/8/2026).

Ia menilai nilai-nilai luhur dalam warisan budaya perlu diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Namun, di sisi lain, warisan budaya juga harus mampu menjawab kebutuhan kehidupan masyarakat.

“Kita wariskan ke generasi muda sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Tetapi objek-objek, baik yang benda maupun nonbenda, itu bisa ditransfer menjadi nilai ekonomi,” tegasnya.

Menurutnya, pemanfaatan warisan budaya sebagai produk ekonomi menjadi salah satu langkah penting untuk menggerakkan perekonomian di daerah. Ia melihat generasi muda memiliki peluang besar untuk mengambil peran karena saat ini mereka membutuhkan ruang untuk bekerja, berusaha, sekaligus mengembangkan kreativitas.

“Dengan demikian generasi muda akan tertarik. Kita tahu generasi muda ini sedang struggle untuk mencari kehidupan, membangun kehidupan. Mereka membutuhkan pekerjaan, membutuhkan sesuatu yang bisa diolah untuk menghidupi mereka,” jelasnya.

Wa Ode mengatakan, event budaya seperti Rakernas JKPI juga menjadi momentum untuk memperkenalkan bahwa warisan budaya tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif.

“Dengan adanya event seperti ini, saya lihat juga banyak pengunjung dari kalangan generasi muda. Mereka bisa tertarik bahwa warisan budaya ini juga menjawab kebutuhan kami,” tuturnya.

Ia mencontohkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dapat mengembangkan warisan budaya melalui fashion, kerajinan, kuliner, tenunan, rajutan hingga pahatan di Kota Ternate.

“Mereka sebagai pelaku UMKM atau pengusaha bisa menghidupkan usahanya. Tetapi juga ada segmen pasar yang membutuhkan,” katanya.

Wa Ode juga mengapresiasi produk-produk kerajinan yang ditampilkan dalam stan pameran di Kota Ternate. Menurutnya, sejumlah produk telah mengalami transformasi desain sehingga lebih sesuai dengan selera masyarakat masa kini.

“Saya lihat tadi dari stan-stan yang menjual fashion, desainnya juga sudah kekinian. Tentunya itu adalah kebutuhan generasi masa kini. Dulu warisan budaya itu kita lihat sebagai sesuatu yang harus kita lestarikan. Tetapi zaman sekarang tidak hanya dilestarikan, tetapi harus kita kembangkan dan kita manfaatkan dalam arti kata positif untuk menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar warisan budaya tetap hidup dan memiliki manfaat nyata bagi generasi penerus.

Terlebih di era digital, keterlibatan generasi muda diyakini dapat mempercepat pengembangan produk berbasis budaya.

“Apalagi ketika generasi muda, kaum milenial, masuk di dalam sektor ini, dampaknya akan dobel. Generasi milenial bergerak lebih cepat, berpikir lebih cepat, inovasi akan lebih banyak yang kita harapkan dari mereka,” katanya.

Ia juga menilai kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital dan pemasaran daring dapat membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk berbasis warisan budaya.

“Mereka menguasai teknologi digital marketing dan ini akan lebih berdampak besar. Kita bisa optimistis bahwa warisan budaya dalam bentuk tenunan, rajutan, pahatan, termasuk kuliner, bisa dikembangkan oleh generasi milenial,” jelasnya.

Wa Ode Hamsinah Bolu juga menyampaikan apresiasi terhadap Kota Ternate sebagai tuan rumah Rakernas JKPI ke-XII. Ia datang bersama Wali Kota Baubau serta rombongan sekitar 40 hingga 50 orang yang terdiri dari sejumlah kepala dinas terkait, Dekranas, Tim Penggerak PKK dan sejumlah unsur lainnya.

Menurutnya, kehadiran rombongan Baubau bukan hanya untuk mengikuti agenda JKPI, tetapi juga menjadi momentum pembelajaran dan bertukar pengalaman dalam pengelolaan warisan budaya.

Kota Baubau dan Kota Ternate sama-sama merupakan anggota JKPI. Baubau bahkan pernah menjadi tuan rumah kegiatan JKPI sekitar satu dekade lalu.

“Pak Wali Kota dan saya kan ini baru menjabat. Momen seperti ini juga penting. Kami pikir ini seperti benchmarking. Di samping itu, pesona Kota Ternate juga sangat menggoda,” ujarnya.

Ia mengaku baru pertama kali berkunjung ke Ternate dan terkesan dengan kekayaan sejarah serta warisan budaya yang dimiliki Kota Ternate.

“Kami belum pernah ke Ternate, jadi datang ke sini dan jalan-jalan, luar biasa warisan budaya yang ada di sini,” ungkapnya.

Ia bilang, Kota Baubau hampir serupa dengan Ternate karena sama-sama mewarisi peninggalan sejarah dari Kesultanan. Baubau memiliki warisan sejarah eks Kesultanan Buton, sementara Ternate memiliki warisan Kesultanan Ternate.

Selama berada di Ternate, Wa Ode juga mengapresiasi penyelenggaraan festival gastronomi yang menampilkan berbagai makanan tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal.

Ia menyebut penggunaan rempah-rempah khas Ternate yang dipadukan dengan hasil laut menjadi kekuatan tersendiri.

“Kita menyaksikan festival gastronomi, makanan-makanan tradisional yang menggunakan bahan-bahan alami dari alam Ternate sendiri dengan rempah-rempah asli Ternate, diolah dan dipadukan dengan berbagai hasil laut,” katanya.

Ia mengaku bangga melihat potensi sumber daya lokal mampu diolah menjadi sajian yang memiliki kualitas tinggi. Dan juga produk kerajinan yang ditampilkan pelaku UMKM Kota Ternate.

“Tentu bangga bahwa dengan kekuatan sendiri, dengan sumber daya dari alam kita, kita bisa menampilkan kuliner yang high level. Itu apresiasi kami kepada Kota Ternate. Bagus sekali. Saya kira ini juga sudah level yang tinggi. Olahannya sudah bagus, rapi dan sangat layak untuk masuk ke marketplace barangkali,” pungkasnya. (nar) 

Komentar

Loading...