Sekda Kota Semarang Terpesona Keindahan Ternate: Lautnya Bening Alamnya Cantik

Ternate, malutpost.com -- Kekayaan sejarah dan budaya menjadi kekuatan yang terus didorong Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) untuk dilestarikan di berbagai daerah.
Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto, disela-sela kegiatan JKPI di Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (29/8/2026).
Handi mengatakan, JKPI merupakan wadah yang menghimpun 97 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki kekayaan pusaka dan warisan budaya, baik berwujud maupun tidak berwujud.
Kota Semarang, kata dia, menjadi salah satu daerah yang tergabung dalam jaringan tersebut. Semarang memiliki sejumlah warisan sejarah yang hingga kini masih terpelihara dan menjadi bagian penting dari identitas kota. Salah satunya adalah kawasan Kota Lama Semarang.
“Di kita itu banyak warisan masa lalu yang masih terpelihara dengan baik, antara lain Kota Lama. Kawasan Kota Lama ini di Indonesia menjadi kawasan warisan masa lalu yang terbesar yang masih utuh sampai sekarang,” kata Handi, saat diwawancara.
Menurutnya, keunggulan Kota Lama Semarang terletak pada keutuhan kawasan yang masih terjaga. Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang warisan sejarahnya hanya tersisa pada ruas jalan atau bangunan tertentu, Semarang masih memiliki satu kawasan bersejarah yang relatif utuh.
“Kalau di kota lain kan hanya satu ruas jalan tertentu, tapi di Semarang satu area. Itu masih terjaga dan kita jaga dengan baik, kita lestarikan,” ujarnya.
Selain Kota Lama, Semarang juga memiliki sejumlah bangunan bersejarah, salah satunya Lawang Sewu yang selama ini menjadi ikon wisata sekaligus sejarah Kota Semarang.
“Termasuk juga ada Lawang Sewu. Terus banyak hal terkait dengan gedung-gedung masa lalu yang masih terjaga, kita pelihara dengan baik,” tuturnya.
Handi menegaskan, keberadaan JKPI tidak sebatas menjaga bangunan maupun kawasan bersejarah. Lebih jauh, jaringan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan warisan budaya tetap hidup dan dipahami oleh generasi penerus.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan melalui proses menjaga, merawat sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.
“JKPI ini juga salah satu upaya kita untuk melestarikan budaya di masing-masing daerah. Kemudian tidak hanya melestarikan tetapi juga menjaga, merawat dan mengedukasi masyarakat sehingga budaya itu tetap terus ada sampai anak cucu kita, sampai ratusan tahun yang akan datang,” tegasnya.
Berbicara mengenai Ternate, Handi mengaku memiliki kesan tersendiri. Ia menilai Kota Ternate tidak hanya kaya akan sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki keindahan alam yang menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan.
Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah kejernihan laut dan keindahan alam Ternate.
“Lautnya bening sekali, kemudian alamnya juga cantik sekali,” ungkapnya.
Handi bahkan mengaku telah tiga kali berkunjung ke Ternate. Setiap kali ada kegiatan yang digelar, ia mengaku selalu antusias untuk datang.
“Kebetulan saya sudah tiga kali ke Ternate dan selalu menjadi tempat destinasi yang kita nantikan. Kalau ada acara di sini saya pasti datang karena keren,” katanya.
Kehadiran JKPI di Ternate diharapkan semakin memperkuat jejaring antarkota pusaka di Indonesia. Tidak hanya untuk menjaga warisan budaya dan sejarah, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengalaman dalam mengembangkan potensi wisata dan identitas masing-masing daerah.(nar)



Komentar