Berislam Makan Biaya

Oleh: M. Rizal Rizky Ramli
(Kader HMI Cabang Ternate)
Judul “Berislam Makan Biaya” mungkin terdengar provokatif. Namun, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan Islam sebagai ajaran, apalagi merendahkan praktik ibadah umat Muslim. Islam, sebagai nilai dan pedoman hidup, justru mengajarkan kesederhanaan, keadilan, dan pengendalian diri.
Tulisan ini diarahkan pada fenomena sosial yang mengiringi praktik keberagamaan kita hari ini terutama di bulan Ramadan, ketika ibadah sering berjalan berdampingan dengan budaya konsumsi yang kian intens. Yang dipersoalkan bukan ajarannya, melainkan cara kita menjalaninya dalam lanskap sosial-ekonomi modern.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 25 Februari 2026
Setiap Ramadan tiba, ada dua hal yang meningkat secara bersamaan, intensitas ibadah dan angka konsumsi. Masjid lebih ramai, tetapi pusat perbelanjaan juga lebih padat.
Ceramah tentang pengendalian diri disampaikan di banyak tempat, sementara promosi diskon Ramadan membanjiri ruang publik. Kita berbicara tentang kesederhanaan, tetapi daftar belanja justru bertambah panjang.
Tentu tidak ada yang salah dengan orang yang ingin berbuka bersama keluarga atau membeli pakaian baru untuk hari raya. Ekonomi yang bergerak juga bukan sesuatu yang perlu dicuriga.
Bukan soal boleh atau tidak. Namun, apakah praktik keberagamaan kita masih dipimpin oleh nilai pengendalian diri, atau sudah terlalu dipengaruhi oleh logika konsumsi?
Puasa seharusnya menjadi ruang refleksi. Tetapi refleksi hanya mungkin terjadi jika kita berani melihat diri sendiri dengan jujur, termasuk cara kita membelanjakan hasrat.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar