Pusaran Kekuasan dan Matinya HPMS

IMG 20260104 WA01041

Oleh: Fadli Kayoa

(Jurnalis)

Siang kemarin grup whatsapp ramai. Mereka tidak ribut hal lain. Tapi risih dengan tulisan berjudul “Ada Baiknya HPMS Dibubarkan”. HPMS (Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula). Bagi banyak senior, tulisan itu terasa panas di telinga, sesak di dada, dan pastinya tersinggung.

Respon spontan ini, menunjukkan ada masalah besar yang memang benar-benar terjadi dalam kurun 10 tahun terakhir. Tentu berkaitan dengan aktivitas organisasi HPMS yang vakum dan tidak punya taring mengkritisi kekuasaan.

Kenapa demikian?, pertanyaan ini dengan gampang bisa dijawab. Kelemahan HPMS dalam 10 tahun terakhir bukan terletak pada para kader yang masih berstatus mahasiswa. Musababnya berasal dari kekuatan besar atau bisa kita bilang mereka alumni dan senior. Ada dominasi berlebihan yang menyebabkan HPMS hilang arah, sebagaimana awal perjuangan.

Mereka bahkan enggan melepas jabatan puluhan tahun di organisasi kemahasiswaan. Lalu sebagiannya juga masih sibuk konsolidasi merebut jabatan organisasi kemahasiswaan itu jelang kongres tahun 2026 ini. Padahal kenyataannya mereka sudah terlibat dalam politik praktis, menjadi pejabat daerah atau pun sudah lulus dari perguruan tinggi.

Para tetua berpikiran kolot (Kuno) ini masih menanamkan pengaruhnya. Barang tentu, sudah jelas kegunaan menanamkan pengaruh tersebut ada untungnya bagi mereka. Pastinya untuk kepentingan politik lima tahun mendatang. Atau berupaya agar mengarahkan HPMS sesuai dengan kemauan maupun kepentingannya.

Akibat campur tangan dan intervensi besar para senior dan politisi itu, berdampak bagi matinya nalar kritis organisasi berlambang pulau senapan itu. Terbukti di tengah kondisi daerah yang sedang tidak baik-baik saja, HPMS seolah mati suri. Ia kehilangan ruh sebenarnya, seperti awal didirikan pertama kali 66 tahun silam.

Jika sebelumnya HPMS kritis terhadap kekuasaan, menjadi motor penggerak pemekaran Kepulauan Sula dan Maluku Utara kala itu. Kini HPMS kehilangan arah, seperti ayam terkena penyakit, yang paling menyebalkan hanya jadikan ladang merebut kuasa. Akhirnya amanat HPMS 66 tahun silam hanya jadi sejarah, perjuangan organisasi kemahasiswaan di tengah Pemerintahan Orde Lama hingga Orde Baru itu tinggal kenangan.

Karena itu, daripada menghabiskan tenaga kembali menghidupkan organisasi itu, dan akan memberikan ruang bagi pejabat daerah dan politisi maupun senior-senior penjilat kekuasaan, sebagian alumni yang jadi aktor perusak daerah. Pada tulisan sebelumnya saya saran dibubarkan, lalu kader yang sudah lanjut bergabung baiknya beternak ayam, kambing, sapi dan kerbau dan jenis peternakan yang lainya.

Sebab peternak lebih mulia, daripada kembali menghidupkan HPMS. Kemudian akan menjadi panggung bagi para birokrasi, politisi, atau mereka yang mengaku alumni dari organisasi mahasiswa itu. Jika itu terjadi, masyarakat Sula dirugikan. Alasanya organisasi kemahasiswaan itu seharusnya membawa aspirasi rakyat yang hidup dalam pusaran ketertinggalan, perekonomian merosot dan kepemimpinan yang buruk serta pemimpin miskin gagasan.

Diskusi sore tadi begitu nikmat, saya melepas sepasang sepatu, duduk menghadap ke arah utara, sepasang mata senior kami terlihat ragu atas kongres yang akan dilangsungkan pakan mendatang. Ada banyak keraguan arah organisasi yang sudah berusia senja itu akan berjalan pada jalan rakyat atau kekuasan.

Bagaimana sikap PP HPMS setelah kongres, apakah berpihak pada rezim saat ini dan menjadi ternak sapi atau berbalik pada rakyat Sula yang hidup dalam pusaran kemiskinan, ekonomi rendah dan fasilitas yang serba terbatas. Kemudian apakah mereka akan meneguhkan sikap tegas menolak 10 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang kian mengancam warga Pulau Mangoli. *

Komentar

Loading...