Desa Tuada Didorong Jadi Sentra Pangan Lokal Berbasis Sagu

Selain bantuan peralatan, kegiatan juga memberikan pendampingan dalam aspek pengemasan produk yang baik dan menarik. Pengemasan menjadi bagian penting dalam pengembangan produk pangan karena tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi sarana informasi dan meningkatkan daya tarik produk di mata konsumen.
Tim pelaksana juga memberikan pendampingan kepada kelompok mitra dalam proses pemenuhan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen sekaligus meningkatkan legalitas dan daya saing produk pangan berbasis sagu.
Menurut tim pelaksana, pengembangan sagu di Desa Tuada memiliki prospek yang besar karena sagu merupakan komoditas pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku Utara. Potensi tersebut perlu dikembangkan tidak hanya sebagai bahan pangan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga sebagai produk ekonomi yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat desa.
“Melalui penerapan teknologi pengolahan yang tepat, standar kebersihan, pengemasan, serta penguatan aspek legalitas, sagu diharapkan dapat berkembang menjadi komoditas unggulan desa. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual bahan baku, tetapi mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Prof. Hamidin salah satu tim dosen Unkhair.

Program PKM Desa Binaan melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdia kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Khairun ini juga diharapkan dapat memperkuat kapasitas kelembagaan kelompok masyarakat dan mendorong terbentuknya ekosistem usaha pangan lokal berbasis potensi desa.
Lebih jauh, penguatan desa mandiri berbasis sagu di Desa Tuada diharapkan dapat menjadi model pengembangan pangan lokal yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Halmahera Barat dan Maluku Utara. “Sagu memiliki posisi strategis dalam mendukung diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pangan tertentu dari luar daerah. Karena itu, pengembangan sagu tidak hanya memiliki dimensi ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, pelestarian pangan lokal, dan pembangunan ekonomi desa,” sambung Prof. Hamidin.
Program ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran nyata dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara Universitas Khairun, KEMENDIKTISAINTEK, dan kelompok masyarakat di Desa Tuada diharapkan mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan dalam pengelolaan potensi sagu.
Dengan dukungan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemenuhan standar keamanan pangan, legalitas usaha, serta penguatan pemasaran, Desa Tuada berpeluang berkembang menjadi salah satu sentra pengembangan pangan lokal berbasis sagu di Halmahera Barat.
“Penguatan sagu bukan sekadar mempertahankan tradisi pangan lokal, tetapi menjadikannya sebagai sumber pangan, sumber pendapatan, dan sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat desa,” pungkas Guru Besar Bidang Teknologi Hasil Pertanian ini. (rul)



Komentar