Paradoks Nikel: Memangkas Produksi, Menanggung Sendiri Bebannya

Anggaharianto Ambar

Dari Kuasa Volume ke Kuasa Harga

Pelajaran terpenting dari episode ini sesungguhnya melampaui urusan kuota. Indonesia perlu berhenti berpuas diri sebagai raksasa volume dan mulai serius merebut kuasa harga. Setidaknya ada tiga agenda yang mendesak.
Pertama, membangun kapasitas produksi nikel kelas 1.

Selama katoda berkemurnian tinggi tidak keluar dari smelter kita, selama itu pula kita menjadi penonton di bursa yang menentukan nasib komoditas kita sendiri. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada produk antara; ia harus menembus kelas produk yang diakui bursa dunia.

Kedua, memperjuangkan mekanisme harga acuan alternatif yang mencerminkan realitas pasar nikel kelas 2, pasar yang justru didominasi Indonesia. Ketimpangan antara komoditas yang kita produksi dan komoditas yang menjadi acuan harga adalah celah struktural yang selama ini membuat kebijakan pasokan kita kehilangan daya gigit.

Ketiga, memastikan setiap kebijakan pengendalian produksi disertai peta jalan perlindungan bagi penambang kecil. Kebijakan yang sehat secara makro tetapi mematikan pelaku terlemah di rantai pasok bukanlah kebijakan yang berkelanjutan, ini hanya memindahkan krisis dari pasar global ke halaman rumah sendiri.

Nikel adalah taruhan besar Indonesia dalam transisi energi dunia. Tetapi taruhan besar menuntut strategi yang lebih canggih daripada sekadar membuka-tutup keran produksi.

Sebab dalam permainan komoditas global, yang menentukan pemenang bukan siapa yang paling banyak menggali, melainkan siapa yang menggenggam kendali atas harga. Dan hari ini, kendali itu belum di tangan kita.(*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...