Peluang Bisnis Tanaman Obat Tradisional di Tangan Generasi Muda

Nadya Salma Isnain

Melangkah lebih jauh, ekosistem agribisnis tanaman obat ini pada akhirnya membutuhkan keterlibatan komprehensif dari segala pihak dalam sebuah kerja sama pentaheliks yang solid.

Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa didukung oleh institusi perguruan tinggi yang musti aktif mengarahkan program riset dan pengabdian masyarakatnya pada hilirisasi produk pertanian lokal, bukan sekadar menumpuk skripsi di perpustakaan.

Sektor swasta dan perbankan juga perlu terlibat sebagai penyedia modal kerja sekaligus pembeli siaga (offtaker) yang menjamin pasar.

Sementara itu, mahasiswa agribisnis dapat mengambil peran krusial sebagai jembatan teknologi (technology broker) untuk mendampingi kelompok tani tradisional di desa dalam mengadopsi e-commerce pertanian, sebagaimana yang ditegaskan dalam jurnal Agrokreatif bahwa pendampingan langsung terbukti efektif menaikkan produktivitas dan memutus rantai distribusi yang terlalu panjang.

Masa depan eksistensi tanaman obat tradisional Indonesia tidak boleh berakhir secara tragis sebagai pajangan berdebu di museum sejarah atau sekadar menjadi catatan masa lalu yang terlupakan.

Sektor agribisnis herbal ini adalah "tambang emas hijau" yang menyimpan potensi ekonomi luar biasa tinggi jika mampu dikelola secara modern melalui pemanfaatan teknologi digital 4.0.

Inovasi produk di sektor hilir dan modernisasi di sektor hulu harus berjalan beriringan tanpa mencabut akar nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Pada akhirnya, eksis atau tidaknya warisan kekayaan herbal nusantara di panggung global tidak lagi ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang tercipta hari ini, melainkan sejauh mana generasi muda mau bergerak bersama mengambil peluang bisnis ini guna menjadikannya tuan rumah yang perkasa di negeri sendiri. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...