Di Balik Proyek Kanal Rp40,8 Miliar, Ada Solusi Masa Depan Kota Maba

IMG 20260606 WA0017

Ketika masyarakat dari Wasile, Wasile Selatan, Wasile Timur, Maba Selatan, Maba Tengah, Maba Utara, atau kecamatan lainnya datang mengurus keperluan pemerintahan, mereka datang ke Kota Maba. Ketika investor datang melihat peluang daerah, mereka melihat Kota Maba. Ketika pemerintah pusat berkunjung, yang pertama kali mereka lihat juga adalah Kota Maba.

Karena itu, membangun Kota Maba sesungguhnya bukan hanya membangun satu wilayah. Membangun Kota Maba berarti membangun citra, martabat, dan masa depan Halmahera Timur secara keseluruhan. Ibu kota yang tertata dengan baik akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan meningkatkan daya tarik daerah di mata pihak luar. Lebih jauh dari itu, pembangunan kanal juga mengingatkan kita bahwa pembangunan daerah adalah proses panjang yang tidak lahir dari satu generasi semata.

Halmahera Timur dibangun oleh gagasan, kerja keras, dan pengabdian banyak tokoh yang meletakkan fondasinya sejak awal. Salah satu nama yang sulit dipisahkan dari perjalanan pembangunan daerah ini adalah almarhum Ir. Muhdin Hi. Ma’bud. Masyarakat Halmahera Timur mengenal beliau bukan hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pembangunan daerah. Dalam berbagai kesempatan, almarhum selalu menekankan pentingnya membangun daerah dengan visi jauh ke depan. Bagi beliau, pembangunan bukan hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan ruang hidup yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Karena itu, ketika pemerintah hari ini melakukan penataan dan pembangunan infrastruktur di Kota Maba, termasuk rehabilitasi dan pemeliharaan kanal, sesungguhnya yang sedang dilakukan bukan hanya menata karya yang pernah dirintis almarhum Ir. Muhdin Hi. Ma’bud. Lebih dari itu, pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya melanjutkan visi besar tentang Kota Maba sebagai pusat pemerintahan yang tertata, aman, nyaman, dan mampu menjadi wajah kemajuan Halmahera Timur.

Dalam konteks inilah langkah Pemerintahan Ubaid Yakub dan Anjas Taher menjadikan pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah perlu dipahami secara objektif. Sebuah pemerintahan tidak hanya dituntut menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga harus mampu mengantisipasi persoalan yang mungkin muncul lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan. Keberanian mengambil keputusan strategis sering kali tidak selalu populer, tetapi itulah salah satu tugas utama seorang pemimpin.

Tentu saja ada yang bertanya, mengapa perhatian besar diberikan kepada Kota Maba? Jawabannya sederhana. Karena Kota Maba adalah ibu kota kabupaten. Sebagai pusat pemerintahan dan pusat pelayanan publik, kondisi Kota Maba akan selalu menjadi cerminan kemajuan Halmahera Timur secara keseluruhan. Namun demikian, menjadikan Kota Maba sebagai prioritas tidak berarti pemerintah mengabaikan kecamatan lain. Pembangunan tetap berlangsung di berbagai wilayah sesuai kebutuhan masing-masing.

Infrastruktur jalan, pendidikan, kesehatan, permukiman, serta program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tertuang dalam visi dan misi Ubaid Yakub dan Anjas Taher tetap menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah.

Dengan kata lain, pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal Kota Maba bukan simbol ketimpangan pembangunan, melainkan bagian dari strategi pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah. Karena itu, masyarakat perlu melihat persoalan ini secara lebih jernih. Kritik tentu tetap diperlukan. Transparansi harus terus diperkuat. Pengawasan publik harus tetap berjalan. Namun kritik yang baik adalah kritik yang bertujuan memperbaiki, bukan menghambat. Kritik yang lahir dari kepedulian akan selalu lebih bermanfaat dibandingkan kritik yang hanya berorientasi pada perdebatan dan kebencian.

Saya percaya bahwa daerah yang maju bukanlah daerah yang menunggu masalah datang baru kemudian bertindak. Daerah yang maju adalah daerah yang mampu membaca tantangan masa depan dan menyiapkan jawabannya sejak sekarang. pembangunan rehabilitasi dan pemeliharaan kanal yang dibangun hari ini mungkin belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh sebagian orang.

Namun ketika Kota Maba terus berkembang dan tekanan terhadap lingkungan perkotaan semakin besar, maka kebutuhan terhadap sistem pengendalian air yang baik akan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi. Karena itu, masyarakat Kota Maba sudah sepatutnya mendukung langkah pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk masa depan kota ini. Dukungan tersebut bukan berarti menghilangkan fungsi kontrol terhadap pemerintah. Sebaliknya, dukungan dan pengawasan harus berjalan beriringan. Pemerintah bekerja dan masyarakat mengawasi, pemerintah membangun dan masyarakat memastikan pembangunan berjalan sesuai tujuan.

Pada akhirnya, rehabilitasi dan pemeliharaan kanal Kota Maba bukan hanya tentang saluran air, beton, dan angka dalam dokumen anggaran. Ia adalah tentang bagaimana Halmahera Timur mempersiapkan masa depannya. Ia adalah tentang upaya menjaga keselamatan warga, melindungi aktivitas ekonomi, dan membangun fondasi bagi daerah yang lebih maju. Kelak ketika kanal-kanal itu berfungsi dengan baik, ketika genangan berkurang, ketika kawasan kota menjadi lebih tertata, dan ketika masyarakat merasakan manfaatnya, kita akan memahami bahwa yang dibangun hari ini bukan sekadar infrastruktur. Yang sedang dibangun adalah ketahanan kota, masa depan daerah, dan harapan generasi Halmahera Timur yang akan datang. Sebab membangun Kota Maba sesungguhnya adalah menata wajah Halmahera Timur. (*)

Selanjutnya 1 2

Komentar

Loading...