Jemaah Bertanya, Ustad Menjawab

Apakah Nilai Puasa Ramadan Bisa Menjadi Landasan Etika Sosial Sepanjang Tahun? Ini Penjelasannya

H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A
H. M. Thariq Kasuba, LC,. M.A

Ini adalah latihan integritas tertinggi.

Jika kita bisa jujur dalam hal "makan" saat tidak ada orang yang melihat, maka etika ini harus dibawa ke ruang publik: tidak korupsi, tidak memanipulasi data, dan tidak berbuat curang meski ada kesempatan.

Jadikanlah IHSAN (merasa diawasi Allah SWT) sebagai budaya kerja dan budaya politik sepanjang tahun.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

​أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

​"Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Muslim)

  1. Membangun "Kesalehan Kewargaan" dengan menjaga lisan dan perbuatan (Al-Akhlaq).

Ulama menekankan bahwa puasa yang benar harus berdampak pada kendali fisik dan verbal. Jika selama Ramadan kita dilarang memaki atau menebar hoaks, maka itu harus menjadi standar komunikasi di media sosial selamanya.

​Rasulullah SAW bersabda:

​مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari)

Oleh sebab itu menjaga martabat manusia melalui lisan dan tulisan adalah fondasi masyarakat yang beradab.

Ulama menegaskan bahwa Allah SWT yang kita sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama yang mengawasi kita di bulan-bulan lainnya.

​"Kun Rabbaniyyan, wala takun Ramadhaniyyan"

(Jadilah hamba Allah yang sejati di setiap waktu, jangan hanya menjadi hamba Allah di bulan Ramadan saja).

Semoga penjelasannya bermanfaat

WALLAHU A'LAM BISHOWAAB. (*)

Selanjutnya 1 2 3

Komentar

Loading...