Antara Kemakmuran dan Eksploitasi
Desa Sagea

Apakah martabat manusia bisa dibeli dengan sembako dan jalan rabat beton, apakah air sungai yang jernih bisa di ganti dengan sumur bor perusahaan apakah kehilangan rumah bisa ditebus dengan seminar pemberdayaan.
Kembali mengingat apa yang disampaikan oleh Tan Malaka, bahwa walaupun indonesia kaya, tetapi selama ilmu alam tidak merdeka, seperti politik negaranya, maka kekayaan indonesia tidak akan menjadikan penduduk indonesia ini senang.
Melainkan semata-mata akan memusnahkanya, seperti 350 di tahun belakang. Politik dan kecerdasan bangsa asinglah yang akan memakai kekayaan indonesia buat memastikan belenggunya indonesia, seperti ular kobra memeluk mangsanya.
Dan hari ini apa yang dikatakan Tan Malaka telah menjadi fakta bagaimana kekayaan sumberdaya alam kita dikuasai, lewat industri kapitalis milik asing.
Tak sampai disitu, tapi kehidupan sosial budaya kita pun turut diintervensi dan hampir hilang ditelan oleh kebudayaan asing yang tidak mengenal batas, adab dan etika lingkungan.
Dari gelombang perlawanan warga sagea yang terus berulang kali digendangkan tanpa rasa takut meski diperhadapkan dengan tameng kekuasaan atau moncong senjata.
Ini menjadi catatan penting bahwa menolak tunduk pada kezaliman penguasa, hantu industri, adalah manifestasi bahwa martabat manusia tidak bisa diganti, dan dibeli dengan sembako dan jalan rabat beton. Bahwa kehilangan rumah, kehilangan tanah, tiak bisa ditebus dengan seminar pemberdayaan.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar