Antara Kemakmuran dan Eksploitasi

Desa Sagea

El Dinoh

Kita harus melihat halmahera tengah terkusunya wilayah yang suda di tambang bukan hanya pada aspek lapangan pekerjaanya tetapi juga pada posisi kehancuran alam nya. Pertanyaan yang muncul adalah kenapa sagea juga harus di tambang?

Sagea adalah lokus di mana dia menjadi benteng menuju hutan patani, jika sagea juga telah di babat dan di eksploitasi maka akan mudah menuju hutan patani, proses perlawanan masyarakat sagea hari ini bukan semata-mata untuk mempertahankan tana mereka, tapi ini lebih pada persoalan harga diri.

Kita akan bertanya negara yang adil bukanlah yang paling banyak menarik investor, tapi yang paling berani melindungi air mata warganya, dari mama-mama sagea-kiya, kita belajar banyak.

Tentang perjuangan,perlawanan, yang terus berulang kali digelar,tidak mesti kebal peluruh atau lainya saat berhadapan dengan moncong senjata dan industri kapitalis. Tapi dengan satu prinsip bahwa soal tana, adalah soal hidup dan mati.

Kita harus kembali mengasah ingatan tentang aksi perjuangan kelompok perempuan tani, yang dikenal dengan sebutan “kartini kendeng” yang menjadi simbol perlawanan nir kekerasan.

Salah satu aksi ikonik dengan mengecor kaki mereka dengan semen di depan istana negara pada 16 november 2015 sebagai bentuk perlawanan penolakan terhadapa izin lingkungan pabrik semen untuk melindungi lahan pertanian dan ekosistem karst.

Kita musti tegas bertanya bahwa nasionalisme macam apakah yang membuat petani kehilangan tanahya, dan anak-anak tumbuh dengan air tercemar tambang.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8

Komentar

Loading...