Peluncuran 4 Buku ICMI Maluku Utara: Merawat Ingatan, Menyusun Masa Depan

Perdagangan berlangsung egaliter, tanpa konflik, hingga tibanya bangsa Eropa di Maluku, pasca kejatuhan Malaka (1511). Dan bangsa Eropalah yang memperkenalkan konsep monopoli dan divide et impera ke Nusantara.
Bahkan dari Maluku pula, Nusantara mengenal genosida untuk pertama kali, sebagaimana ditulis sejarawan Marjolein van Pagee dalam “Genosida Banda, Kejahatan Jan Pieterzoon Coen” (2024) pada 1621. Tercatat 14.000 penduduk aseli Pulau Banda dibantai dan dimutilasi.
Juga Maluku menjadi ajang pembantaian antara sesama pedagang pedagang Eropa, yang dilakukan Belanda atas pedagang Inggris di Benteng Victoria, Ambon pada 1623 oleh Gubernur Maluku Herman van Speult, sebagaimana dicatat sejarawan Adam Clulow pada “Amboina, 1623, Fear and Conspiracy on the Edge of Empire” (2019). Semua kekejaman tersebut, dilakukan demi monopoli.
Nakh, tidaklah mengherankan jika Prof Yudi Latif, dalam karya teranyarnya “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia” (2025), memaparkan Epos Sumbangsih Cerlang Nusantara Sebagai Pandu Masa Depan, dimana rempah-rempah kita, disebutkannya sebagai lidah peradaban yang membentuk peradaban universal.
Epilog:
4 Buku karya ICMI Maluku Utara ini, menjadi signifikan, dan patut dibaca, karena dunia kita hari ini, tengah bergolak. Seakan mengalami pengulangan masa lalu, belum lepas dari kekisruhan global sebagaimana masa lalu.
Pertarungan dan perebutan hegemoni politik, baik global, regional, bahkan lokal, terjadi dengan tanpa malu-malu didepan mata kita.
Jurnalis Amerika-Kanada, Vince Bisser, dalam “Power Metal, The Race for the Resources That Will Shape the Future (2024), menyatakan perebutan sumber daya, telah menjadikan dunia berada dalam konflik global masa depan. Dan ini sedang berlangsung sekarang.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar