Peluncuran 4 Buku ICMI Maluku Utara: Merawat Ingatan, Menyusun Masa Depan

Bahwa sejarah, memang tidak bisa dibiarkan berserakan, tanpa upaya menghimpunnya, menjadi sebuah bangunan yang utuh.
Karena dari bangunan yang utuh itulah, akan melahirkan kesadaran intelektual akan kekayaan spiritualitas dan kebijaksanaan masa lalu, yang seyogyanya menjadi pedoman perilaku bagi masa kini sekaligus sebagai kompas menuju masa depan.
Tentu saja dalam penulisan sejarah, bukanlah sekadar menghimpun dongeng masa lalu. Karena dituntut pemahaman metodologis untuk menghindari perspektif intelektual kita dari kerancuan berpikir.
Historiografi menjadi sebuah kemutlakan dalam hal ini. Dari sejarahlah kita dapat merekontruksi kejadian dan peristiwa-peristiwa masa lampau manusia secara sistematis dan objektif. Tanpa literasi, sejarah akan menjadi sekumpulan dongeng belaka.
Bahwa ICMI Orwil Maluku Utara, hari ini, menghadirkan 4 karya aktual, tentang 4 kesatuan sosial politik di Maluku Utara. Karya ini, adalah sebuah bentuk pertanggung-jawaban intelektual daerah, untuk menghadirkan literasi historis, guna memberi panduan kepada khalayak publik Maluku Utara.
Bahwa wilayah ini, pernah menghadirkan kesatuan sosio-politik yang sangat kaya akan muatan spiritual historis dan kebijaksanaan, yang dapat dikatakan telah melampaui zamannya.
Sebutlah saja peristiwa akbar terbentuknya Konfederasi Moti (1322). Peristiwa ini terjadi jauh melampaui lahirnya teori-teori politik modern yang diklaim berawal dari John Locke (1632-1704), Montesqieu (1689-1755), dan Rousseau (1712-1778), yang mempelopori teori- teori Kontrak Sosial (Perjanjian Masyarakat).
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar