Kampus Dibunuh

Hamdy M. Zen

Oleh: Hamdy M. Zen
(Dosen PBA IAIN Ternate)

Dalam dunia perguruan tinggi, dosen mengajarkan berbagai macam teori kepada mahasiswa sebagai pembelajaran baginya agar mampu menyelesaikan setiap persoalan yang kerap datang. Mahasiswa diberi pengetahuan berdasarkan basic keilmuannya masing – masing.

Sehingga, perannya sebagai agan of chage, agen of social control serta agen of intelegen, bisa terlaksana sebagaimana mestinya. Pun demikian dengan sang dosen, bertindak sebagai seorang akademisi untuk mengontrol setiap kebijakan pemerintah, agar roda pemerintahan bisa berjalan tetap pada jalur koridornya.

Suatu negara, hanya akan dapat berdiri kokoh, jika semua mata rantai ini terjalin “kerja sama” yang solid tanpa adanya “kepentingan politik” terselubung di dalamnya.

Secara universal, sikap kampus (perguruan tinggi) dan akademisi sangat dinamis, bergerak antara peran sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan dan peran sebagai penyeimbang kekuasaan yang kritis (check and balance) demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Masyarakat kampus, (mahasiswa dan para akademisi) harus tampil paling depan dalam menyuarakan setiap aspirasi masyarakat pada umumnya. Sehingga, mereka tidak lagi menjadi korban politik jahat, yang dimainkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Akan tetapi, saat ini yang terjadi, justru seolah terbalik. Kampus tanpa disadari, malah dijadikan “tameng” pemerintah dalam menepis setiap kritik – kritik tajam dari para “pengkritik sejati”, yang seakan “menelanjangi” pakaian pemerintah kita saat ini.

Kampus seperti terbunuh, tidak bisa melakukan apa – apa. Ironisnya, dinamika kampus seperti dikebiri. Dosen tidak lagi terlalu aktif berdiskusi dengan mahasiswa. Mahasiswa yang kritis, dianggap lawan yang harus “dibunuh”.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...