Membaca Ulang Morotai Sebagai Pintu Gerbang Pertahanan Indonesia di Pasifik

Laboratorium diplomasi pertahanan sipil-militer, dan sekaligus ruang eksperimen civil-military coordination untuk pengamanan bencana dan krisis lintas batas.
Morotai sebagai Titik Patah Indo-Pasifik
Dalam lanskap geopolitk modern, kekuatan global tak lagi diukur sekadar dari seberapa besar angkatan bersenjata atau jumlah alutsista, melainkan dari penguasaan atas ruang strategis dan konektivitas global.
Maluku Utara, terutama Pulau Morotai secara geografis berada pada pertemuan rute logistik yang menghubungkan Laut Filipina, Samudra Pasifik bagian barat, dan gugusan Laut Maluku yang mengarah ke wilayah Indonesia tengah.
Dengan kata lain, Morotai kini bukan hanya “pinggiran geografis”, melainkan telah berubah menjadi titik patah strategis (strategic chokepoint) bagi setiap kekuatan yang ingin masuk atau mengawasi lintas samudra Indo-Pasifik dari selatan.
Secara administratif, Maluku Utara sering diposisikan sebagai wilayah perifer nasional. Namun, dalam kerangka geopolitik Indo-Pasifik, posisinya justru makin relevan. Ambiguitas ini menjadi ancaman laten bagi pertahanan nasional.
Apakah mungkin negara melihatnya sebagai pinggiran, tetapi kekuatan asing melihatnya sebagai poros? Ketidakseimbangan persepsi ini membuka ruang bagi eksploitasi, infiltrasi, bahkan proyeksi kekuatan oleh aktor non-negara maupun negara pesaing.
Dalam konteks pertahanan modern, peran pangkalan udara tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari sistem pertahanan berlapis yang melibatkan koordinasi lintas matra (AU, AL, AD) dan terintegrasi dengan teknologi pertahanan canggih.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar