Membaca Ulang Morotai Sebagai Pintu Gerbang Pertahanan Indonesia di Pasifik

Kita harus mampu membaca hal ini sejak awal. Friedrich Ratzel dalam buku Anthropo-Geographe, mengulas secara jelas tentang teori ruang, letak geografis dari suatu negara dapat menentukan kehidupannya baik itu secara politik (kekuasaan), ekonomi, budaya ataupun teknologi yang akan dihasilkan oleh negara.

Pada sisi lain keberadaan wilayah-wilayah sensitif seperti Morotai mengirimkan pesan ke dunia luar, bahwa Indonesia tidak lengah, tidak kosong, dan tidak boleh dianggap pasif.

Sayangnya, hingga hari ini Morotai masih sering dipandang dalam kerangka administratif dan pembangunan biasa oleh pemangku kebijakan di daerah.

Padahal dalam percaturan regional, pulau-pulau kecil seperti Morotai justru menjadi "titik pengungkit" dalam perebutan akses komunikasi, pengawasan lintas batas, dan diplomasi keamanan nasional.

Pangkalan Udara Leo Wattimena memang telah dikembangkan secara teknis, namun belum menjelma sebagai simpul integrasi kekuatan udara, laut, dan siber.

Morotai seharusnya diorientasikan menjadi "terminal pertahanan berlapis" yang bukan hanya merespons ancaman, tetapi juga memperluas daya jangkau Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan.

Untuk itu, Morotai mesti diangkat dalam narasi kebijakan luar negeri, bukan sekadar program pertahanan. Ia bisa menjadi pusat latihan bersama antar-negara Indo-Pasifik.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...