Prostitusi dalam Tubuh Pendidikan

Hal ini setidaknya pernah dikritisi oleh Nuraini Sayomukti dalam bukunya Teori Pendidikan, bgainya “Gaya berpikir logika formal berlawanan degan pikiran esensial dan dialektis, sering meyesatkan. Padahal formalitas bukanlah esensi.
Oleh sebab itu, izajah ataupun sekolah tidak menujukan adanya mutu”. Tidak jarang orang yang bersekolah dengan tingkatan tinggi tetapi watak kecerdasannya rendah, mentalnya rusak, krakternya kerdil, pengecut, dan jiwanya koruptif.
Sekolah justru melahirkan manusia-manusia dehuman yang akan merampok seluruh potensi kemanusiaan manusia yang hidup dalam sebuah negara.
Model seperti ini juga sering terjadi dalam tubuh tenaga pengajar baik guru maupun dosen, dewasa ini tenaga pengajar (Guru/Dosen) kebanyakan tidak mampu menghidupkan kreatifitas mengajar yang berimbas pada rendahnya kualitas pendidikan di indonesia. Hal ini dapat kita buktikan degan kualitas belajar mengajar yang cenderung monoton dan tidak inovasi.
Dalam dunia akademik, dosen sering memperoleh gelar degan berbagai cara, hal-hal licik yang dilakaukan semisal membayar untuk memperoleh gelar prof, Ir, dan magister kendati kualitas pikiran tidak sepadan dengan pemberian gelar.
Hal ini sering terjadi, jika kita melihat kebelakang sejak dahulu pemberian gelar terhadap mahasiswa membutuhkan perjuangan yang amat sulit.
Era ini semua brubah, transaksi terjadi di mana-mana, belum lagi aktivitas pendidikan yang sering terikat degan patron kekuasaan yang terlalu berlebihan, akibatnya terjadi patron politik yang menciptakan relasi kuasa.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar