Catatan
Membaca Masa Lalu dengan Kacamata Poskolonial

Di era kolonial, suku-suku di atas memperoleh privelese di mata pemerintah kolonial. Berbeda dengan ras Papua yang tidak memiliki dasar sejarah yang kuat untuk 'dimusuhi' karena ras Papua (baca : orang Papua) tak punya 'jejak' menjadi anak emas Belanda di Indonesia.
Itu sebabnya, demonstrasi 'anti-rasisme' di kota-kota studi mahasiswa Papua di Indonesia yang dipicu oleh kasus tindakan aparat keamanan di asrama mahasiswa Papua di Surabaya tahun 2019 yang arogan dan melecehkan.
Ungkapan atau cacian 'monyet' itu kemudian dipandang sebagai rasisme. Anggapan itu memperoleh momentum yang pas dengan kampanye Black Lives Matter yang mendapat simpati di seluruh dunia dimana seorang pemuda kulit hitam, George Floyd yang dianiaya polisi kulit putih Amerika hingga tewas di Minneapolis, Minnesota 25 Mei 2020.
Sudah bisa saya bayangkan, jika peristiwa 'rasisme' di atas bukan di Surabaya melainkan di Jayapura, dan aparat keamanan yang melakukan 'kekerasan verbal' itu bukan polisi yang 'orang Jawa' tapi polisi yang 'orang Papua', saya yakin olahan rasisme tak akan laku dijual.
Di dalam buku ini pula Jan Breman menelaah secara kritis beberapa konsep dan pandangan Alexis de Tocqueville (1805-1858) tentang kelas dan ras. Di antaranya terdapat sub judul demokrasi sebagai penyelamatan diri. Di dalam Dela démocratie Amérique (1835) mengisyaratkan demokrasi sebagai angan-angan ideal yang patut diperjuangkan.
Tapi menurut Tocqueville, proses demokratisasi yang dilakukan terlalu jauh dan buru-buru menimbulkan pemerataan yang berlebihan dan mendorong masyarakat yang teratomisasi dalam ketergantungan dan apati politik masuk ke dalam cengkeraman roda mesin pemerintahan yang teramat kuasa.
Fenomena KIM Plus dan pemaksaan kehendak revisi Undang-Undang Pilkada oleh DPR sebagai reaksi atas Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.60/PUU-XXII/2024 bisa jadi merupakan gejala dari demokratisasi yang dilakukan secara terburu-buru ala Tocquiville itu. Sekian! (*)
Catatan ini sudah terbit di koran Malut Post edisi. Rabu, 9 September 2024
Link Koran Digital: https://www.malutpostkorandigital.com/2024/09/senin-9-september-2024.html
Komentar