Dari Maliaro Menuju Ring, Mimpi Kecil Azar Menjadi Petinju Hebat

IMG 20260923 WA0031
Muhtazar Ildaud Rahman

Oleh: Fitrah A. Kadir

Di usia yang baru menginjak 10 tahun, Muhtazar Ildaud Rahman sudah mengenal satu hal yang mungkin belum banyak dipahami anak-anak seusianya: bagaimana rasanya mengejar mimpi dengan disiplin.

Bagi sebagian anak, usia 10 tahun mungkin masih menjadi masa untuk bermain, belajar dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. Namun bagi Muhtazar, ada rutinitas lain yang mulai menjadi bagian penting dalam hidupnya, yaitu latihan tinju.

Bocah yang akrab disapa Azar ini lahir di Ternate pada 17 Oktober 2014. Ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Azar adalah buah hati yang lahir dari pasangan Rahman T. Puasa dan Sriwildayanti Said. Keluarga mereka tinggal di RT 10/RW 003, Kelurahan Maliaro, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara.

Saat ini, Azar tercatat sebagai siswa SD Negeri 16 Kota Ternate yang masih duduk di kelas 4A.

Di balik seragam sekolahnya, tersimpan sebuah mimpi yang perlahan mulai ia perjuangkan. Azar sangat disiplin dalam menjalankan rutinitas olahraga yang membutuhkan keberanian, ketekunan dan kedisiplinan.

Ia mulai mengenal latihan tinju sejak berusia delapan tahun. Dua tahun kemudian lebih tepatnya 2026, ia mulai mengikuti pertandingan.

Langkah pertamanya di pertandingan tidak datang tanpa hasil. Azar pernah tampil di ajang Kejuaraan Daerah (Kejurda) Piala Gubernur Cup yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) bersama Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Malut.

Di pertandingan perdananya, Azar berhasil meraih juara II kelas youth boys atau remaja putra di Sofifi beberapa waktu lalu.

Prestasi ini menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan awalnya sebagai petinju muda.

Saat ini, Azar bergabung dengan sasana Central Boxing 504 yang beralamat di Kelurahan Soa, Kecamatan Ternate Utara.

Di sasana ini, ia terus menempa kemampuan. Baginya, ring bukan sekadar tempat untuk bertanding. Sebab, ring kini menjadi ruang untuk belajar tentang keberanian, disiplin dan upaya dalam menghadapi tantangan.

JUARA: Tampak Muhtazar atau Azar (paling kiri) saat menerima bonus penghargaan setelah berhasil meraih juara II di Kejurda Piala Gubernur di Sofifi beberapa waktu lalu.

Mimpi Azar untuk bisa sampai ke ring karena terinspirasi dengan petinju hebat dunia. Sehingga, kecintaan Azar terhadap tinju tidak muncul begitu saja.

Sang ayah, Rahman, mengatakan, anaknya memiliki ketertarikan besar terhadap olahraga tersebut. Salah satu sumber inspirasinya adalah para petinju hebat dunia, termasuk legenda tinju Mike Tyson.

Dari kekaguman itulah tumbuh keinginan untuk menjadi petinju hebat. Rahman menilai, Azar memiliki kemauan yang kuat dalam menjalani latihan. Disiplin menjadi salah satu hal yang terus dijaga, meskipun usianya masih sangat muda.

“Anak saya sangat disiplin dalam berlatih sehingga berhasil meraih juara II di Gubernur Cup waktu di Sofifi beberapa waktu lalu,”aku Rahman yang akrab disapa Mances.

Prestasi ini mungkin baru langkah kecil jika dibanding dengan perjalanan panjang seorang atlet. Namun bagi keluarga Azar, capaian tersebut memiliki arti tersendiri.

Sebab, dari sebuah sasana sederhana dan latihan yang dijalani sejak usia delapan tahun, mimpi Azar mulai terlihat.

Menjadi petinju bukan sekadar tentang menang atau kalah. Dibalik pertandingan, ada proses panjang yang harus dilalui seorang atlet. Ada latihan yang berulang, kedisiplinan, rasa lelah dan keberanian untuk kembali berdiri ketika menghadapi kegagalan. Hal itulah yang kini dipelajari Azar.

Bagi Rahman, pilihan anaknya untuk menekuni tinju merupakan bagian dari proses dalam menggapai cita-cita.

Sebagai orang tua, ia tidak hanya ingin melihat anaknya memenangkan pertandingan. Lebih dari itu, ia ingin melihat Azar tumbuh menjadi seorang anak yang mampu memperjuangkan cita-cita.

Rahman pun menyimpan harapan besar terhadap masa depan anaknya. Ia ingin Azar terus mengukir prestasi sehingga suatu hari nanti, sang anak mampu menjadi petinju hebat.

“Tentunya saya berharap anak saya ini bisa mengukir prestasi dan menggapai mimpinya. Itu harapan saya sebagai orang tua. Kita boleh saja gagal sebagai laki-laki, tetapi sebagai seorang ayah bagi anak-anak, kita tidak boleh gagal,” tandas Rahman.

Kalimat ini menggambarkan bagaimana perjalanan Azar di atas ring bukan hanya miliknya sendiri. Ada doa dan harapan orang tua yang ikut menyertai setiap langkahnya.

Jika berkesempatan, Azar dikabarkan akan mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Jakarta pada Oktober 2026, nanti.

Tentunya, mimpi Azar masih panjang karena usianya yang baru menginjak baru 10 tahun. Prestasi yang diraihnya hari ini adalah awal dari perjalanan sehingga masih membutuhkan banyak latihan, pengalaman dan pembinaan.

Namun dari Maliaro, tepatnya di SD Negeri 16 Kota Ternate dan sasana Central Boxing 504, mimpi Azar kini sedang tumbuh.

Azar mungkin masih terlalu muda untuk mengetahui seberapa panjang jalan yang harus ditempuh untuk menjadi petinju hebat. Tetapi ia sudah menemukan sesuatu yang penting: keinginan untuk mencoba dan keberanian dalam mengejar cita-cita.

Tinju mengajarinya bahwa kemenangan tidak datang begitu saja. Ada latihan sebelum pertandingan. Ada disiplin sebelum prestasi dan ada keberanian sebelum seseorang berani naik ke atas ring.

Kini, setiap pukulan yang diasah Azar bukan hanya tentang pertandingan hari ini. Sebab dibalik kepalang tinju yang keras, ada mimpi yang sedang ia bangun.

Mimpi seorang bocah dari Ternate ini sedang diikuti dengan harapan bahwa suatu hari nanti, ia harus berdiri sebagai petinju hebat, membawa nama dirinya, keluarganya dan daerah yang membesarkannya.

Perjalanan baru dimulai dan ring pertama hanyalah awal dari cerita yang jauh lebih panjang. (aji)

Komentar

Loading...