Puasa dan Panggilan Iman

KH. Cholil Nafis, PhD

Oleh: KH. Cholil Nafis, PhD
Wakil Ketua Umum MUI & Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa dengan sebuah panggilan yang sangat istimewa: “Ya ayyuhalladzina amanu” Wahai orang-orang yang beriman.

Panggilan ini bukan tanpa makna. Ia memiliki arti yang sangat mendalam. Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kasih sayang. Artinya, yang akan merespons kewajiban puasa dengan senang dan lapang dada adalah orang-orang yang memiliki iman.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 26 Februari 2026

Maka salah satu cara melihat perkembangan iman dalam diri kita adalah bagaimana perasaan kita terhadap puasa. Jika puasa terasa menyenangkan, menenangkan, dan semakin hari semakin mendalam kebahagiaannya, itu tanda iman sedang tumbuh.

Namun bagi orang yang imannya lemah, puasa terasa berat. Waktu berjalan lambat, ingin segera berbuka, dan merasa terbebani.

Puasa bagi orang beriman adalah madrasatun insaniyah, sekolah kemanusiaan, balai latihan jiwa. Di dalamnya kita dilatih untuk membangun keintiman dengan Allah.

Orang yang berpuasa tidak ada bedanya secara lahir dengan yang tidak berpuasa, kecuali jika ia bercerita. Tidak ada tanda khusus yang terlihat.

Tetapi di sisi Allah, ia sangat istimewa. Ia meninggalkan makan dan minum bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena iman kepada Allah. Tanpa ada yang melihat, tanpa ada yang tahu.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...