HMI Dorong Penguatan Sejarah dan Potensi Lokal dalam Musrenbang Kota Ternate

Ternate, malutpost.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate menyatakan, arah pembangunan Kota Ternate tidak boleh tercerabut dari identitas sejarah dan potensi lokal.
Hal itu disampaikan HMI dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Ternate untuk tahun anggaran 2027.
Dalam Forum yang digelar Bappeda Kota Ternate bertajuk Pemuda bertajuk Ternate Youth Planner pada 17–18 Februari 2026 itu, HMI hadir, diwakili oleh Ketua Bidang Partisipasi dan Pembangunan Daerah (PPD) M. Rizal Rizky Ramli serta Ketua Kohati HMI Cabang Ternate Siti Sakinah Kasturian.
Rizky mengatakan, Ternate memiliki modal pembangunan yang kuat dan tidak perlu memulai dari nol. Ia mencontohkan program Kalaju (Kampung Nelayan Maju) di Jambula yang dinilai berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Model seperti ini bisa direplikasi di sektor lain berbasis potensi wilayah. Tinggal bagaimana pemerintah serius melakukan penguatan dan perluasan,” kata Rizky.
Ia juga menyampaikan tentang pentingnya penguatan narasi sejarah Ternate. Menurutnya, kota ini tidak hanya dikenal sebagai penghasil rempah, tetapi memiliki jejak sejarah dunia yang strategis dan belum sepenuhnya terdokumentasi secara akademik maupun populer.
“Kalau riset, dokumentasi, dan publikasi diperkuat, Ternate bisa menjadi laboratorium penelitian bagi sejarawan mancanegara. Ini berdampak langsung pada penguatan city branding sebagai kota warisan dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Sakinah dalam pembahasan topik Festival Kota mengkritik pola pelaksanaan festival yang masih terpusat di kawasan Taman Nukila dan Benteng Oranje.
Ia mendorong harus ada pemerataan lokasi kegiatan ke wilayah selatan, seperti Benteng Kastela dan Batu Angus.
Menurutnya, pemerataan festival bukan sekadar distribusi ruang, tetapi strategi penguatan identitas sejarah dan potensi wisata berbasis kawasan.
Terlebih, Pemerintah Kota Ternate tengah memantapkan langkah menuju UNESCO Global Geopark dengan tematik Volcano and Spice Island.
“Batu Angus sebagai situs geologi penting harus menjadi titik fokus festival atau minimal terintegrasi dalam setiap agenda wisata dan kebudayaan kota,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar festival tidak semata menjadi program seremonial yang mengejar kemasan modern, tetapi melupakan tradisi lokal yang justru memiliki autentisitas kuat.
Di sisi lain, Sakinah juga menyinggung prosesi Kololi Gam dalam rangka Hari Jadi Kota Ternate yang dinilai minim sorotan dan dukungan publikasi. Padahal, memiliki nilai budaya tinggi dan daya tarik wisata.
HMI Cabang Ternate menilai, keterlibatan pemuda dalam forum Musrenbang bukan hanya soal partisipasi formal, tetapi bagian dari tanggung jawab mengawal pembangunan agar berorientasi pada penguatan identitas sejarah, pemerataan kawasan, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Di akhir forum, delegasi HMI mengapresiasi Bappeda Kota Ternate yang membuka ruang aspirasi bagi pemuda. Namun, mereka mendorong agar forum serupa ke depan melibatkan lebih banyak komunitas yang fokus pada sejarah, budaya, dan pelestarian heritage agar perencanaan pembangunan tidak kehilangan akar identitas Kota Ternate. (van)




Komentar