“Timang-timang Tambangku Sayang”: Mengancam Pendidikan Generasi Muda

Arlan Maulana Putra

Oleh: Arlan Maulana Putra
(Anggota Independensia dan Mahasiswa PPKn Unkhair)

Tambang, kini sebagai salah satu industri yang dieluk-elukan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Ia diistimewakan oleh negara, hingga dijadikan sebagai proyek stategis nasional (PSN), satu di antarannya hilirisasi nikel.

Barangkali, “timang-timang tambangku sayang” menjadi kalimat yang bisa dipakai untuk menyebut kemesraan negara dan tambang.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 13 Januari 2026

Betapa tidak, melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029, pemerintah telah menetapkan sebanyak 77 Proyek Strategis Nasional (PSN).

Proyek-proyek ini mencakup berbagai sektor, termasuk pertambangan. Di Maluku Utara (Malut), selain Perusahaan Nickel di Obi Halsel, PT IWIP di Weda, Halteng, pabrik baterai kendaraan listrik di Teluk Buli, Haltim, pun mengekor dan diresmikan pada Juli 2025.

Tampaknya, Pempus dan oligarki tambang masih belum puas mengkobok-kobok perut Malut. Karena menurut JATAM, saat ini Malut dikepung 127 IUP aktif.

Meski begitu, di tengah pesta PSN dan hilirisasi nikel, narasi diubah menjadi “proyek sengsara nasional”. Sebab, dampak positif bagi perekonomian nyaris tidak sampai ke dapur warga lingkar tambang.

Warga tetap menerima dampak negatif dan melarat. Ia tak hanya merusak ekologis dan konflik sosial hingga berujung pada kriminalisasi warga, tapi juga merusak minat generasi muda untuk mengenyam pendidikan, yang menjadi aspek penting dalam pembangunan masyarakat.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...