Jalan Panjang Ekosistem Inovasi

Prakoso Bhairawa Putera

Oleh: Prakoso Bhairawa Putera
(Direktur Perumusan Kebijakan Riset, Teknologi, dan Inovasi – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN))

Transformasi menuju ekonomi berbasis nilai tambah, ilmu pengetahuan, dan inovasi bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan strategis.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi seperti ini bergantung pada kemampuan daerah membangun ekosistem inovasi yang melibatkan pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan komunitas praktik (Communities of Practice) sebagai motor penggerak pembelajaran kolektif dan penciptaan nilai (Malik et al., 2021).

Baca di: Koran Digital Malut Post Edisi Senin, 15 Desember 2025

Temuan ini selaras dengan diagnosis RPJPD dan data Statistik Daerah Malut 2025 yang menunjukkan bahwa peluang besar memang terbuka, tetapi keberhasilannya mensyaratkan investasi serius pada riset, talenta, dan kolaborasi lintas sektor.

Modal Dasar

Secara ekonomi, Malut berada dalam fase pertumbuhan yang unik. Pertumbuhan ekonomi provinsi mencapai 13,73 persen pada 2024, salah satu tertinggi di tingkat nasional.

Pendorongnya sangat jelas, bahwa industri pengolahan berkontribusi 33,92 persen terhadap total PDRB, menjadikannya sektor dominan yang menopang struktur ekonomi daerah (BPS Malut, 2025).

Pertumbuhan sektor industri tersebut mencapai 24,69 persen, sementara pertanian—yang melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar—hanya tumbuh 4,51 persen.

Namun, ketergantungan pada satu atau dua sektor berbasis SDA tanpa kemampuan inovasi lokal menghadirkan risiko serius. Struktur PDRB berdasarkan pengeluaran menunjukkan bahwa 184,50 persen PDRB berasal dari ekspor, angka yang mencerminkan betapa tingginya ketergantungan terhadap pasar global.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...