PLN Bentuk Garda Siaga Bencana di Waena, 30 Warga Dibekali Hadapi Karhutla

Dalam program tersebut, PLN menyerahkan sejumlah sarana pendukung kepada kelompok Desa Siaga Bencana berupa 10 unit Handy Talky (HT), lima Jhet Sotter atau tas punggung berisi air berkapasitas 15 liter, satu jeriken Flame Freeze berkapasitas 20 liter, dan 30 pasang sepatu boots.
Penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan melalui edukasi Karhutla dan peningkatan kapasitas relawan oleh BPBD Kota Jayapura, edukasi cuaca ekstrem oleh BMKG Papua, edukasi kebakaran hutan dan lahan oleh BBKSDA Papua, mitigasi berbasis konservasi tanah dan lahan oleh BPDAS Memberamo, serta edukasi tanggap darurat dan evakuasi oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Jayapura.
Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kota Jayapura, Edward Prandoko, Amd.Pi, mengatakan masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mencegah sekaligus menghadapi bencana.
“Kita ingin masyarakat bukan hanya mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga mampu mencegah sebelum bencana terjadi. Saya berharap melalui Program Waena Desa Siaga Bencana ini akan terbentuk masyarakat yang semakin peduli, semakin siap, dan semakin tanggap terhadap potensi Karhutla di wilayahnya.”
Program tersebut turut dihadiri Kepala Distrik Heram Anna C. Kaigere, SE, Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kota Jayapura Edward Prandoko, Amd.Pi, Adhib Fallail dan Abdul Kahar dari Staf Seksi IV SDA Sarm, Kepala Seksi RHL BPDAS Memberamo Aris Tandiera, SP, PS Kanit Polsek Heram Torang Sitorus, Kepala Lurah Waena Arius Andaka, S.I.P, Wakil Ondo Afi Kleuw Blouw, dan Saka Wanabakti sebagai mitra pelaksana
General Manager PLN UIP MPA, Abdul Haris, mengatakan pembangunan ketangguhan masyarakat merupakan bagian dari komitmen PLN untuk memberikan manfaat yang berkelanjutan melalui program TJSL.
“PLN ingin program ini tidak berhenti sebagai kegiatan, tetapi menjadi gerakan yang terus berjalan di tengah masyarakat. Ketika masyarakat semakin siap dan tanggap terhadap bencana, maka lingkungan menjadi lebih aman dan pembangunan dapat berjalan lebih berkelanjutan.”
Abdul Haris menegaskan, keberlanjutan program membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
“PLN tidak dapat bekerja sendiri. Pemerintah, BPBD, aparat keamanan, tokoh masyarakat, perempuan, pemuda, relawan, dan seluruh masyarakat memiliki peran penting untuk membangun Waena yang semakin siap, tanggap, dan tangguh menghadapi bencana.” (ikh)

Komentar