Kuat Karena Terpaksa? Membaca Beban Ganda Perempuan Desa

Di kebun perempuan dapat menanam tanaman bulanan, mencari biji pala, membantu para lelaki mengumpulkan buah kelapa hingga dijadikan kopra dan pekerjaan lain sebagainya.
Setelah selesai beekerja di kebun, perempuan kembali ke rumah lebih awal untuk memasak, mencuci, membersikan rumah, membantu anak belajar serta mengurus kebutuhan keluarga yang lain. Pada saat musim panen perempuan bahkan ikut menjual atau mengelolah hasil pertanian untuk menambah pendapatan keluarga.
Peran ganda tersebut menunjukan ketekunan dan kontribusi besar perempuan dalam menopang kehidupan keluarga. Namun banyak tanggung jawab yang dilakukan secara bersamaan juga dapat menjadi beban, apabila tidak diimbangi dengan pembagian kerja yang adil dan dukungan dari keluarga serta masyarakat.
Situasi ini juga dapat membuat perempuan kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Waktu untuk beristirahat sering kali dikorbankan. Kesempatan untuk mempercantik diri, atau sekedar berkumpul dengan orang lain juga menjadi terbatas.
Bahkan ketika perempuan merasa lelah, keluhan tersebut terkadang di anggap sebagai hal biasa karena suda lama diletakan dengan citra sebagai sosok yang harus sabar dan kuat. Padahal menjadi kuat harusnya tidak berarti menanggung semuanya sendiri.
Peran perempuan dalam keluarga memanglah penting, tetapi tanggung jawab keluarga harusnya menjadi tanggung jawab bersama. Suami, anak, dan anggota keluarga lainnya juga perlu mengambil bagian dalam pekerjaan rumah tangga.
Seperti membantu mencuci, memasak, mengasuh anak dan membersihkan rumah. Supaya pekerjaan seperti itu dapat dikerjakan secara bersama-sama tanpa mendiskriminasi satu sama lain.
Selain keluarga, pemerintah desa dan masyarakat juga memiliki peran penting. Misalnya pemberdayaan perempuan samapi terlibat dalam pengambilan keputusan desa. Karena pada dasarnya, kesejatraan perempuan desa bukan hanya persoalan perempuan.
Ketika perempuan memiliki kesempatan untuk beristirahat, belajar, bekerja secara layak dan mengembangkan potensinya, maka keluarga serta masyarakat bakal mendapat manfaatnya.
Untuk itu, sudah waktunya kekuatan perempuan tidak lagi diukur dari seberapa banyak beban yang mampu dipikul, tetapi dari seberapa jauh lingkungan disekitarnya mampu berbagi dan mendukung.(*)

Komentar