(Sebuah Otokritik)
Senjakala Tradisi

Dalam kerangka Williams, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk dominasi budaya yang dipengaruhi basis ekonomi. Ia menekankan bahwa budaya selalu berada dalam relasi dengan “means of production” atau cara produksi dalam masyarakat.
Ketika struktur ekonomi didominasi kapitalisme ekstraktif, maka budaya pun cenderung direduksi menjadi komoditas simbolik, ditampilkan, tetapi tidak lagi menjadi kekuatan yang mampu mengintervensi realitas sosial.
Tradisi seperti soya-soya, cakalele, coka iba, dan dodengo, yang dahulu merupakan ekspresi perlawanan dan keberanian kolektif, kini lebih sering hadir sebagai pertunjukan seremonial. Ia kehilangan konteks historisnya sebagai “senjata budaya” dan berubah menjadi tontonan.
Dalam istilah Williams, ini dapat dilihat sebagai proses “selective tradition”, di mana masyarakat (atau lebih tepatnya kekuasaan) memilih bagian-bagian tertentu dari budaya untuk dipertahankan, sementara aspek-aspek yang kritis atau resistif justru disingkirkan.
Lebih jauh, Williams juga mengemukakan konsep tentang relasi antara budaya dominan, residual, dan emergent. Budaya dominan merupakan budaya yang selaras dengan kekuasaan yang ada; budaya residual merupakan sisa-sisa masa lalu yang masih bertahan; sementara budaya emergent adalah bentuk-bentuk baru yang berpotensi menantang dominasi.
Dalam konteks Maluku Utara, tradisi lokal tampaknya terjebak dalam posisi residual, dihormati sebagai warisan, tetapi tidak diberi ruang untuk berkembang sebagai kekuatan kritis yang mampu menantang industri ekstraktif.
Sementara itu, industri tambang hadir sebagai representasi budaya dominan. Ia tidak hanya mengubah lanskap fisik, menggunduli hutan, mencemari laut, dan merusak tanah, tetapi juga menggeser cara pandang masyarakat terhadap alam.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar