“Pela Gandong dan Adat SeAtorang: Kearifan Lokal Sebagai Penjaga Persatuan Indonesia di Tengah Krisis Perpecahan”

Gelombang disintegrasi bangsa seolah tak pernah benar-benar reda. Jika dahulu perhatian publik tertuju pada konflik Gerakan Aceh Merdeka, kala itu Papua masih relatif tenang. Namun kini, situasi berbalik. Tanah Papua terus diguncang gejolak panjang, diwarnai aksi-aksi separatis yang digerakkan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Api pemberontakan di sana belum juga padam, menyisakan ketakutan, kehilangan, dan trauma bagi masyarakat yang harus hidup di tengah bayang-bayang kekerasan.
Anak-anak tumbuh dengan suara tembakan sebagai latar keseharian, para ibu kehilangan rasa aman saat melepas keluarga bekerja atau bersekolah, dan banyak warga harus meninggalkan tanah kelahiran mereka demi bertahan hidup.
Konflik di Papua bukan lagi sekadar catatan politik atau isu separatisme, melainkan kisah nyata penderitaan manusia yang terus menunggu titik terang perdamaian.
Jika menelusuri kembali jejak konflik yang pernah mengguncang Indonesia, Maluku dan Maluku Utara menjadi salah satu kisah yang memberi harapan. Pertikaian yang dahulu sempat mengoyak kehidupan masyarakat di dua daerah itu, menorehkan luka mendalam.
Namun, di tengah kepedihan itu, masyarakat perlahan menemukan kekuatan untuk kembali membangun perdamaian. Upaya rekonsiliasi dilakukan tidak hanya oleh tokoh-tokoh politik dan agama, tetapi juga oleh warga biasa yang rindu pada suasana aman, tenteram, dan harmonis.
Kedua daerah ini memiliki kebudayaan yang dapat digunakan sebagai penyelesaian akar permasalahan. Konflik yang terjadi dapat diatasi dengan adanya Pela Gandong di Ambon dan Adat SeAtorang dari Maluku Utara, orang-orang Maluku di Ambon dan sekitarnya dikenal memiliki budaya Pela Gandong, budaya ini dikenal sebagai pengikat perbedaan agama maupun etnis.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar