Hikmah Ramadan
Puasa dan Tafakur

“Dia memberi rizki pada kita untuk menunjukkan kemurahan-Nya. Dia mematikan untuk menunjukkan keperkasaan-Nya. Dia menghidupkan untuk menunjukkan kebesaran-Nya. Dia menghitung amal untuk menunjukkan keadilan-Nya. Dia memasukkan ke dalam Surga untuk menunjukkan karunia dan kasih sayang-Nya. Dia memasukkan orang-orang Kafir ke dalam Neraka untuk menunjukkan murka dan azab-Nya”.
Dalam kitabnya “Manusia dan Alam Semesta”, Murtadha Muthahhari mengungkapkan untuk mengetahui asal-usul dan hendak ke mana manusia, maka ia harus merenungkan dan mempercayai pernyataan Al-Qur’an tentang pahala, kebangkitan, siksa kubur, dan Hari Kiamat.
Bahwa Allah adalah titik mula dari segala yang ada, maka Dia juga titik kembali segala yang ada. AlQur’an menjelaskan : “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”, (al-Hadid: 3).
Obyek Tafakur
Ibnu ‘Abbas ra berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “Berfikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi janganlah kamu berfikir tentang Dzat Allah, karena kamu tidak akan mampu memikirkannya.”
Al-Ghazali berkata bahwa pada dasarnya obyek tafakur adalah diri kita sendiri dan semua ciptaan Allah. Intinya ber-tafakur atas keajaiban ciptaan Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Tafakur tentang karunia dan kemurahanNya. “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”. (al-Araf: (74)
Senantiasa ber-tafakur tentang luasnya ilmu Allah, pengetahuan dan pandangan-Nya yang meliputi seluruh alam semesta, yang nampak dan tersembunyi. Pernahkah kita ber-tafakur tentang kelalaian dalam beribadah pada Allah, yang selalu menentang murka-Nya dan memasuki pintu laranganNya. “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”, (Adz-Dzâriyát: 56).
Sepanjang nafas, apakah kita pernah ber-tafakur tentang kefanaan kehidupan duniawi dan Akhirat. Tentang sifat zuhud dan qana’ah. “Tetapi kamu memilih kehidupan duniawi sedang kehidupan Akhirat adalah lebih baik dan kekal”, (al-A’la: 16-17). Dan proses perenungan berupa tafakur tentang akhlak, amalan, pahala dan hukuman yang akan kita diterima.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar