“Darah dan Air Mata di Palestina”
Ramadan dan Duka Palestina

Oleh: Muhammad Muzijad Mandea, S.Pd
(Ketua Literasi Pasifik Morotai)
Tragedi Palestina merupakan tragedy yang berkepanjangan dari abad 19 sampai abad 21. Tragedi ini salah satu tragedi yang banyak memakan korban jiwa, dan korban yang dialami rata-rata adalah anak-anak yang sekitar ribuan nyawa melayang akibat genosida yang dilakukan Zionis Israel.
Kelaparan kematian akibat genosida mejadi bukti kebiadaban Zionis Israel yang secara sengaja melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan aturan perang yang di atur Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Kejahatan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina merupakan pelanggaran yang harus ditindak dengan tegas, PPB sebagai harapan besar seharusnya menjadi actor untuk menghentikan perang yang tak peranh usai. Saat ini, warga Palestina hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Kaum muslimin seluruh dunia hari ini tengah melakukan ibadah puasa Ramadhan penuh dengan suka cita. Hal yang sama juga dirasakan oleh muslim Palestina. Mereka menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan. Namun, kondisi berbeda harus dirasakan muslim Palestina.
Mereka menjalankan puasa ramadhan ditengah agresi militer zionis Israel yang telah terjadi selama tiga tahun dan memakan korban, mulai dari anak-anak, perempuan dan juga para warga sipil lainnya.
Ramadhan seharusnya momentum pembebasan dan kebahagian umat Islam, kini menjadi momentum ketakutan. Warga Palestina di Jalur Gaza menyambut bulan suci Ramadhan di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang rapuh.
Bagi sebagian besar penduduk, tantangan hidup sehari-hari dan luka mendalam akibat perang Israel-Hamas telah meredam semangat meriah yang biasanya menyelimuti kota.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar