Catatan Kritis di Balik Angka Kepuasan Satu Tahun Gubernur Malut
85,1 Persen yang Tidak Meyakinkan

Mengulang-ulang Prestasi Lama yang Kehilangan Substansi
Faktor lain yang saya amati adalah kecenderungan Sherly untuk mengulang-ulang narasi prestasi yang sebenarnya sudah usang dan tidak lagi substantif.
Ia sering menyebut program-program yang dulu dilakukan di Kabupaten Pulau Morotai selama lima tahun kepemimpinan almarhum suaminya, seolah-olah itu adalah pencapaian barunya di tingkat provinsi.
Publik yang paham tentu bisa membedakan. Apa yang dilakukan di Kabupaten Pulau Morotai adalah warisan Benny Laos, dan masa transisi pun dijalani oleh Pelaksana Tugas (PLT).
Ketika program serupa "diulang" di tingkat provinsi, publik menangkapnya sebagai sesuatu yang biasa saja, bukan terobosan baru.
Apalagi beberapa program yang digemborkan ternyata adalah program mandatory dari pemerintah pusat, seperti rumah telekomunikasi dan lain-lain, yang bukan inisiatif orisinal daerah.
Publik tentu bertanya: di mana inovasi? Di mana keberanian untuk melampaui apa yang sudah dilakukan sebelumnya?
Saya khawatir, Sherly asyik dengan dunianya sendiri. Ia menganggap apa yang dilakukannya luar biasa, sementara publik menilai itu hanya polesan digital yang tidak menyentuh kebutuhan riil mereka.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar