Hikmah Ramadan

Kayu Bakar Ramadan

Gufran A. Ibrahim

Anak-anak itu berpasangan atau berkelompok saat mengambil kayu bakar Ramadan. Diambil dari hutan dekat pantai di ujung kampung kemudian diangkut dengan sampan atau cadik (semang-semang).

Lebih unik lagi, mereka pergi bersama-sama, pulang pun bersama-sama. Bila ada angin, daun kelapa kering ditancapkan tegak di atas sampan atau cadik sebagai layar.

Tak ada mengayuh dayung. Kayu bakar dibawa pulang dengan angin. Setiba di kampung, kayu-kayu yang sudah dipotong rapi itu disusun bersilang empat-empat potongan kayu sampai mencapai tinggi sepinggang.

Ini cara menjemur kayu mentah itu. Bila telah kering, kayu-kayu disusun di samping atau di belakang dapur atau di tempat khusus.

Bagi anak-anak, ayol ai puasa llo bukan suruhan, bukan kerja berdasarkan perintah orang tua. Ia bahkan menjadi bagian dari bermain, bersenang-senang, bergembira.

Para semua itu ada “ritual” yang menciptakan kepuasan dan kebanggaan. Mencari pohon kayu tertentu, memotong, dan mengangkutnya dengan sampan atau cadik adalah permainan jelang Ramadan. Anak-anak itu menatap hasil pengumpulan kayunya dengan bangga dan gembira.

Hebatnya lagi, kayu-kayu bakar yang telahdisediakan disetiap rumah selalu saja cukup stok selama bulan puasa. Tidak pernah kurang, bahkan ada lebihannya sampai setelah Idulfitri. Itulah kayu bakar Ramadan.

Pernak-pernik tradisi yang menyertai aktivitas puasa bulan Ramadan di berbagai negara dan budaya, termasuk tradisi mengambil kayu bakar untuk Ramadan adalah satu bukti akulturasi unik antara ibadah dan budaya.

Puasa yang merupakan kewajiban penghambaan yang turun dari langit, diterima oleh masyarakat di bumi dan diamalgamasi dalam satu tradisi bulan puasa. Karena itu, kayu bakar pun beridentitas kayu bakar Ramadan. (*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...