Kapan Menikah: Menengok Jawaban Sejarah

Hal ini secara otomatis menggeser usia pernikahan pertama ke angka kepala tiga. Menunda pernikahan menjadi mekanisme pertahanan diri agar tidak terjatuh dalam jerat kemiskinan pasca-nikah yang bisa mengancam kesejahteraan generasi berikutnya.
Mengembalikan Pernikahan sebagai Fondasi
Kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma yang mendasar. Pernikahan kini telah berubah dari foundation (fondasi untuk membangun hidup dari nol) menjadi capstone (puncak pencapaian).
Pernikahan dianggap sebagai pencapaian yang hanya boleh diraih setelah seseorang merasa "selesai" dengan urusan finansial, aset, dan eksistensi dirinya.
Rendahnya motivasi menikah tidak akan bisa diatasi hanya dengan nasihat moral, ceramah agama, atau todongan pertanyaan di meja makan hari raya.
Krisis Perkawinan di tahun 1930an berakhir seiring membaiknya perekonomian pasca Perang Dunia II. Penurunan angka pernikahan yang terjadi saat ini dapat diatasi sesuai dengan akar masalahnya.
Perlu adanya skema kemudahan akses hunian pertama, perlindungan kerja yang lebih pro-keluarga (seperti cuti ayah yang memadai dan penyediaan daycare), serta literasi digital untuk memutus rantai ekspektasi semu di dunia maya.
Pemerintah dan masyarakat harus menyadari bahwa ketika motivasi pernikahan terkikis, yang terancam bukan hanya angka statistik, melainkan keberlanjutan regenerasi bangsa.
Jika tidak ada langkah konkret untuk memulihkan daya beli dan menyembuhkan trauma kolektif anak mudanya, institusi keluarga akan terus mengecil, kalah oleh tingginya harga properti, luka masa lalu, dan kepalsuan etalase media sosial. (*)




Komentar