Kapan Menikah: Menengok Jawaban Sejarah

Krida Amalia Husna

Banyak anak muda hari ini menjadi saksi dari retaknya rumah tangga orang tua mereka di masa lalu. Mereka tumbuh dalam bayang-bayang konflik domestik, perceraian, hingga tidak berfungsinya komunikasi.

Jika pemuda tahun 1930-an menunda nikah karena takut tidak bisa memberi makan keluarga, pemuda era digital menunda nikah karena takut mengulangi siklus luka yang sama.

Mereka adalah generasi yang dipaksa "membedah batin" dan menyembuhkan diri sendiri agar tidak menciptakan "neraka" yang serupa dengan apa yang mereka saksikan di masa kecil.

Pernikahan, dalam kacamata trauma ini, tidak lagi dilihat sebagai ruang aman, melainkan sebuah risiko emosional yang terlalu mahal untuk dibayar.

Hambatan Struktural: Properti dan Waithood

Selain faktor psikologis, menurunnya motivasi untuk menikah memiliki akar struktural yang sangat teknis. Pertama adalah hambatan properti. Rasio harga hunian terhadap pendapatan di kota-kota besar Indonesia sudah berada di luar nalar sehat.

Menikah tanpa kepastian tempat tinggal dianggap sebagai tindakan ceroboh yang mengundang derita, sementara mencicil rumah tipe terkecil sekalipun bisa menghabiskan hampir separuh pendapatan bulanan pasangan muda.

Kedua adalah fenomena Waithood atau masa tunggu menuju kedewasaan finansial yang kian panjang. Di era kompetisi global, anak muda dituntut untuk menempuh pendidikan lebih lama dan membangun karier lebih awal.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...