Kapan Menikah: Menengok Jawaban Sejarah

Krida Amalia Husna

Pemuda masa pergerakan dididik untuk memiliki standar hidup modern, namun Malaise merampas kemampuan finansial mereka untuk mewujudkannya.

Akibatnya, pernikahan ditunda demi menjaga "wajah" di depan publik. Ini menjadi sebuah mekanisme pertahanan diri agar tidak jatuh kasta ke dalam kemiskinan yang dianggap memalukan secara sosial.

Perubahan Makna dan Luka Masa Lalu

Penurunan angka pernikahan yang terjadi di masa kini dapat kita lihat sebagai pengulangan pola dalam bentuk yang lebih kompleks.

Jika pada 1930-an hambatan utamanya adalah kemiskinan riil, saat ini hambatan utamanya adalah ekspektasi rumit yang dipicu oleh obsesi standar digital. Melalui etalase Instagram dan TikTok, anak muda terpapar kurasi kehidupan selebgram yang serba mewah.

Standar "layak nikah" tidak lagi diukur dari kesiapan mental, melainkan dari kemegahan mahar, estetika hantaran, hingga lokasi resepsi yang harus "pantas" untuk diunggah. Bagi pemuda dengan upah rata-rata, standar ini adalah tembok tinggi yang sulit dipanjat.

Pengaruh media sosial tidak berhenti pada tren kemewahan. Anak muda juga dipaksa menyaksikan 'kurasi kegagalan' orang lain setiap kali mereka menggulir layar ponsel mereka. Pameran kegagalan ini memunculkan skeptisme terhadap institusi pernikahan.

Tren tagar "Marriage is Scary" misalnya, menunjukkan adanya lapisan trauma generasi (intergenerational trauma) yang mendalam.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...