Kapan Menikah: Menengok Jawaban Sejarah

Huwelijk Crisis 1930an dan Status Angst
Jika kita membuka lembaran arsip media massa tahun 1930an yang terbit di Hindia Belanda, seperti De Locomotief atau Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, istilah huwelijk crisis atau krisis perkawinan marak dibahas.
Saat itu, dunia sedang dihantam oleh The Great Depression atau Zaman Malaise. Angka pernikahan di berbagai kota di Hindia Belanda merosot tajam karena runtuhnya daya beli masyarakat secara masif akibat krisis ekonomi.
Sejarawan Heather Sutherland dalam karyanya, The Making of a Bureaucratic Elite, mencatat bahwa pada medio 1930-an, kaum terpelajar pribumi terjebak dalam apa yang secara sosiologis disebut sebagai "status angst" (kecemasan status).
Bagi para ambtenaar dan lulusan sekolah Belanda, posisi sosial sangat bergantung pada kemampuan mereka mempertahankan gaya hidup tertentu.
Ketika ekonomi ambruk, mereka bukan sekadar takut lapar, melainkan takut kehilangan martabat sosial. Mereka merasa tabu untuk menikah jika tidak mampu menyediakan standar hidup yang dianggap "layak" bagi kelas intelektual.
Hal ini dipertegas oleh Robert Van Niel dalam The Emergence of the Modern Indonesian Elite. Ia menyoroti bagaimana depresi ekonomi menciptakan jurang antara ekspektasi yang dihasilkan pendidikan dan realitas ekonomi yang ada.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar